Setelah 2 kali gagal nonton 2012 karena antriannya seperti ular-naga-panjangnya-bukan-kepalang, akhirnya kemarin sukses nonton di bioskop Taman Anggrek.

Hari Senin sore diniatin pergi ke TA hanya untuk registrasi M-Tix. Isi form, deposit Rp 150.000, trus pulang. Sekitar 2-3 jam kemudian di rumah dapat SMS notifikasi bahwa sudah bisa aktivasi. Yowis, aktivasi, dan tanpa membuang waktu langsung order tiket 2012 untuk hari Selasa (kemarin). Semua dilakukan by SMS. Harga tiket langsung dipotong dari deposit yang tadi.

Jam 6 sore kemarin, melaju ke TA, datang ke counter m-Tix, menyebutkan kode booking (yang diberitahukan lewat SMS setelah order)… dapet deh tiketnya untuk jam 6.45 sore.

Gak perlu dibahas lagi, film 2012 emang oke tenan! Efek kehancuran bumi divisualisasikan sedemikian dahsyat dan fatal sampai-sampai saya bertanya dalam hati, apa yang akan saya lakukan kalau kehancuran seperti itu benar-benar saya alami. Akankah saya berjuang sekuat tenaga melampaui batas kekuatan saya demi menyelamatkan keluarga saya seperti yang dilakukan Jackson Curtis (diperani oleh John Cusack)? Atau saya akan memilih pasrah menerima yang tak terelakkan seperti orang tua John Koestler (Nicolas Cage) dan keluarganya dalam film Knowing?

So… siapa yang mau pesan tiket 2012 lewat M-Tix saya? Pesan tiket film lain juga boleh, misalnya New Moon yad. :D

2012 knowing

Catatan: Tiket M-Tix (wilayah Jakarta) hanya bisa untuk nonton di bioskop 21 berikut ini.

  • Anggrek XXI
  • Gading XXI
  • Plaza Senayan XXI
  • Studio XXI
  • Pondok Indah XXI
  • Senayan City XXI
  • Pluit XXI
  • Cilandak 21
  • Setiabudi XXI
  • Platinum XXI
  • Emporium Pluit XXI
  • Studio XXI EX-X
  • Pejaten Village

Dua tahun yang lalu, saya disodori buku ini oleh atasan saya. Meskipun berbahasa Inggris, tidak banyak waktu yang dibutuhkan untuk membuat saya tenggelam dalam keasyikan membacanya. Beberapa topik yang menarik perhatian saya (Don’t Treat People As You Would Like To Be Treated dan Getting To Know You) secara khusus saya tulis di blog.

Jadi, betapa girangnya saya ketika hari Sabtu lalu, di pameran buku JCC, saya melihat buku ini tergeletak dengan manisnya di salah satu counter buku lokal. Yes! Akhirnya buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia! :D

Diterjemahkan oleh Th. Dewi Wulansari, editor Indi Aunullah, buku ini diterbitkan di Indonesia oleh Azkia Publisher (Kelompok Pustaka Alvabet).

First, Break All The Rules sepertinya pernah dicetak dengan 2 jenis cover yang berbeda. Yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia memakai versi cover warna putih, sedangkan yang saya peroleh 2 tahun lalu bercover hitam dengan tulisan merah.

first-break-all-the-rules pertama-langgar-semua-aturan

Saya belum membaca tuntas yang bahasa Indonesia. Harapan saya tentunya buku tersebut berhasil dialihbahasakan dengan sempurna, dalam artian esensinya tidak berubah, dan hal-hal yang menarik di buku aslinya (misalnya celetukan-celetukan khas dari narasumber, atau contoh kasus tertentu, atau penggunaan istilah tertentu) tetap bisa dipertahankan walaupun ini buku terjemahan.

Sayangnya, di tahap awal saja buku (terjemahan) ini sudah mengecewakan saya.

Secara acak saya mengecek bab 3 mengenai bakat (Keahlian, Pengetahuan, dan Bakat: “Apa perbedaan di antara ketiganya?” hal 91-103). Marcus dan Curt mengelompokkan bakat (talent) menjadi 3 kategori: striving talent, thinking talent, dan relating talent. Yang menarik, di bab ini disajikan beberapa permainan pikiran (mind games) untuk menguji apakah kita (pembaca) memiliki talent tsb atau tidak.

Salah satu (eh dua deh, hehe) game tsb adalah demikian:

Can you see the well-known phrases or sayings in these words:

M I L L 1 O N

P A Y

The solution: “One in a million” and “A raise in pay“.

(halaman 86 dan 87 dari buku First, Break All The Rules *yg bahasa Inggris*)

Bandingkan dengan versi terjemahannya:

Bisakah Anda melihat ungkapan atau pepatah yang kerap kita dengar dalam kata ini:

S E J U T A

U P A H

Solusinya: “Satu dalam sejuta” dan “Kenaikan upah“.

(halaman 95 dan 96 dari buku Pertama, Langgar Semua Aturan)

Duuuhh… di mana logikanya coba?! Games mengasyikkan yang mestinya membuat pembaca jadi lebih paham tentang Talent atau Bakat, yang secara sengaja disajikan secara interaktif oleh tim penulis buku ini, rusak sudah gara-gara diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa pertimbangan. Mestinya gak semua teks perlu diterjemahkan, ya gak? Dan mestinya pula, sebelum menerjemahkan, di penerjemah memahami dulu topik yang dibahas, agar ketika disajikan dalam bahasa lain pun tujuan bahasan tsb tetap tercapai.

Dan ini terjemahan yang paling aneh:

but-on-second-thought

This one is a little harder, but if you have the innate thinking talent for perceiving patterns, then once again the solution should gradually emerge: "But on second thought."


… diterjemahkan menjadi …

tapi-di-atas-pikiran

Permainan ini agak lebih sulit, tapi jika Anda memiliki bakat berpikir untuk merasakan polanya, sekali lagi, seharusnya penyelesaiannya perlahan akan muncul: "Tapi setelah dipikirkan kembali."

Aduuuhhh… mau nangis jadinya. Memang benar ungkapan but on second thought artinya tapi setelah dipikirkan kembali, tetapi ini bukan hanya sekedar teks. Ini [game] permainan kata-kata yang harusnya tetap sesuai dengan konteks game dalam bahasa aslinya.

Walhasil, karena kecerobohan tersebut, seluruh bab 3 menjadi kehilangan sebagian besar daya tariknya. :(

Saya belum sempat membaca bab-bab lainnya. Mudah-mudahan sih tidak ada “kesalahan” fatal lagi.

Meskipun demikian, saya mengakui bahwa “ngritik sih gampang, coba kamu terjemahin sendiri, belum tentu tuntas”. Ya sih, memang. Jadi sebetulnya walaupun saya kecewa, saya tetap menyambut gembira kehadiran terjemahan ini. Buktinya saya tetap membeli dan mengoleksinya. Mudah-mudahan di edisi berikutnya kekurangan tersebut dapat diperbaiki.

Judul Buku: Pertama, Langgar Semua Aturan; ditulis oleh Marcus Buckingham dan Curt Coffman.

soekarnotosbyBiasanya saya malas membaca buku dengan tema politik. Tapi waktu tanpa sengaja saya melirik cover buku ini, saya agak tertarik. Keeenam profil presiden Indonesia ditampilkan dengan mengutip kalimat-kalimat khas mereka.

Soekarno: “Gooi Mij Eruit”

Soeharto: “Daripada yang mana melakuken siapanya padanya…”

Habibie: “Masak orang pintar bisa keliru?!”

Megawati: “Sudah ya, kamu aja yang mutusin”

Gus Dur: “Gitu aja koq repot…”

SBY: “?!”

Kutipan-kutipannya betul-betul memancing rasa penasaran saya. Memang apa sih artinya “Gooi Mij Eruit”? Trus kenapa SBY cuma dikasih tanda tanya dan tanda seru? :)

Prof. Dr. Tjipta Lesmana, sebagai seorang ilmuwan komunikasi, mengulas gaya komunikasi politik keenam presiden kita tersebut. Meskipun sebetulnya ini buku “serius”, tapi gak membosankan karena di sana sini si penulis mengutip cerita dari para narasumber (kebanyakan menteri) yang pernah bekerja bareng dengan Pak Harto, Habibie, Mega, Gus Dur, dan SBY.

Saya serasa mengintip ke dalam bilik pribadi dunia elite politik, mendapati bahwa Megawati segitu antipatinya sama SBY, atau Habibie yang ternyata benar-benar pintar meskipun selama dia memerintah sepertinya di-under estimate, bahkan pola tidurnya Gus Dur. Bagaimana cara marahnya presiden-presiden itu, cara mereka bereaksi terhadap kritik, ternyata ya manusiawi juga.

Selagi membaca buku ini saya berulang kali nyengir atau membatin sendiri… “Oooohh ternyata begitu tho”. Kadang saya geli dengan ulah beliau-beliau para pemimpin negara ini, tapi kadang juga kagum.

Jadi saya acungkan jempol deh untuk buku ini! Highly recomended.

Judul Buku: Dari Soekarno Sampai SBY, karangan Prof. Dr. Tjipta Lesmana, M.A.

Udah sebulan pompa air rusak terus.

Udah sebulan gerah terus.

Udah sebulan jedak-jeduk terus (tetangga sebelah lagi ngeruntuhin rumah).

Udah sebulan jadi jagoan mengirit air (BAB, mandi, sikat gigi, dan keramas harus cukup hanya dengan SEEMBER air).

Udah sebulan tiap bangun tidur badan basah kuyup oleh keringat.

Udah sebulan “hujan debu” dari celah langit-langit (penyebabnya tetangga yang sama).

Udah sebulan gak betah di rumah… :(

“The one who loves you will make you weep.”

“I love walking in the rain, ’cause then no-one knows I’m crying.”

“The tears fall, they’re so easy to wipe off onto my sleeve, but how do I erase the stain from my heart?”

“Tears are words the heart can’t express.”

(Source: http://thinkexist.com/quotations/tears/)

Smile >< Frown

Laughter >< Tears

Happiness >< Sorrow

Hope >< Despair

Intimate >< Distant

Truth >< Lies

Strong >< Weak

Faith >< Doubt

Melody >< Silence

Expect the unexpected.

Hmmm…

Sekilo KACANG MERAH

Kaldu yang dibuat dari SAYAP dan CEKER AYAM

Tumisan BAWANG PUTIH dan LADA BULAT

Dua potong KAYU MANIS

Sejumput GULA MERAH dan BUBUK PALA

Beberapa iris TOMAT dan WORTEL

Dua ikat DAUN BAWANG dan SELEDRI

 

Pelengkap:

- Tomat mengkal diiris dadu
- Rajangan bawang merah
- Rajangan cabe rawit
- Perasan jeruk limau/jeruk nipis
- Sejumput gula pasir dan sejumput garam
- Aduk jadi satu, masukkan kulkas sebentar agar dingin dan segar

Semangkuk sup kacang merah dimakan bersama sambal dabu-dabu… hhmmmmm….

(Jadi inget waktu masih di Kwitang, rame-rame makan brenebon di Tinoor. Miss you girls!)

DSC 1171

Apa yang membuat hatiku sanggup terpaut pada satu kota? Jawabannya: alam, dan aromanya….

Garut berhasil memikatku karena alamnya yang masih cantik natural, yang menggodaku untuk menjelajahi dan mengabadikannya melalui kameraku.

Sampai minggu lalu belum ada kota lain yang menyaingi Garutku dengan cara yang sama. Bahkan Bali sekalipun. Sampai aku menemukan sebuah kebun di halaman belakang rumah dinas seorang dokter di Gisting, Tanggamus, Lampung Selatan.

IMG 3688 IMG 3677 DSC 1153 DSC 1145

DSC 1217Keheningan sore itu, sejuknya hembus angin, aroma tanah dan rumput sehabis hujan… langit biru, rimbunnya semak berpadu dengan beberapa batang pohon kelapa dan pohon pala, bunga-bunga rumput, sejumput embun yang masih menempel di daun, lumut unik di sana-sini, hijaunya cemara, kontur tanah yang bergelombang… membuatku betah berlama-lama di sana.

“Enak ya di sini?” ujarku tanpa maksud bertanya. “Iya”, jawabnya singkat, mengerti bahwa kata-kata tidak diperlukan untuk meresapi kedamaian kebun belakang itu.

Dalam hati aku berpikir, mungkin ini salah satu hal yang membuat adikku tidak terlalu ngotot (baca: gak kepengen) pindah ke Jakarta atau Garut. Udara Gisting yang sejuk, serta rumah yang membuat penghuninya betah.

IMG 3667

Aku pun menghela nafas dalam-dalam, mereguk aroma basah tanah dan rumput yang kucintai itu di benakku.

Tak lama kemudian, penjelajahan pun kami mulai. Dua kamera beraksi… meng-capture kenangan indah itu dalam rupa visual (kapan ya kita bisa merekam aroma secara digital?).