Securing SSH

Ini adalah hasil kompilasiku (sementara) dari sana-sini mengenai securing SSH. Untung ada Google di dunia ini.

1. Change the default port for ssh. Default-nya adalah port 22.

2. Disallowing login by the root user.

3. Use AllowUsers setting to limit connections just to some users.

4. Set sshd_config to accept only SSH version 2 protocol.

5. Use third party tools such as fail2ban package to help againts ssh-scanning attack.

6. Use public-key authentication instead of password-based login.

7. Filter by source IP from trusted networks only.

8. Require multi-hop ot VPN connections.

9. Use OTP (one time password) method.

10. Use port knocking method.

Jangan Hanya di Mulut

Dalam beberapa kali kesempatan, saya bertemu jenis orang yang sepertinya menganggap bahwa mengakui sesuatu (perbuatan salah) itu sudah cukup.

Mungkin akan lebih jelas kalau saya langsung kasih contoh.

Dulu, jaman saya masih muda, pacar saya mengaku bahwa dia akrab dengan seorang cewek lain (tentu saja pengakuan ini terungkap setelah saya investigasi, mana mungkin maling mau ngaku dengan sukarela ya? hehe ). Ketika saya bereaksi marah, dia tidak mengerti mengapa saya marah, kemudian membiarkan saya meng-handle sendiri perasaan saya, “Ya terserah kamu mau menganggap apa, yang penting kan aku udah jujur.”

Contoh lain, di dunia maya waktu masih hobi chatting, saya pernah berpapasan dengan seseorang yang dengan entengnya mengajak selingkuh (dia sudah beristri). Lalu ketika saya mengutarakan keheranan saya (ya, saya heran bukan marah, karena saya takjub kok ya jaman sekarang ini sepertinya hal-hal yang begitu gak tabu lagi, sehingga “kekurangajaran” seolah-olah bertransformasi menjadi “keberanian melanggar peraturan”), lagi-lagi orang itu berkilah: “Ah aku sih gak mau munafik, dari awal aku udah bilang aku punya istri, tapi kalau memang suka dan mau sama mau, kenapa nggak?”

Belum ada seminggu yang lalu, setelah saya berminggu-minggu jengkel karena tetangga sebelah saya selalu ribut di tengah malam, untuk kedua kalinya saya menegur dia. Kali ini bukan sekedar menegur, tapi sudah membentak. Dan tau tidak? Si tetangga ini bukannya menunjukkan sikap menyesal, malahan balik menyalahkan saya yang bersikap keras, “Kan ini udah saya kecilin suaranya, Mbak. Kalau Mbak ngomongnya baik-baik saya kan nerimanya juga enak. Gak usah bentak. Kalau Mbak keras, saya juga bisa keras.”

FYI, waktu saya menegur pertama kalinya, saya tidak bersikap keras. Saya sudah “menegur dengan baik-baik”. Tapi ternyata kelakuannya tidak berubah.

Menerima serangan balik si tetangga tsb, tentu saja saya semakin marah. Tapi selain marah, saya juga gak habis pikir dengan jalan pikirannya. Kok dia berpikir bahwa dia sudah berbuat benar dengan mengecilkan suara musiknya saat itu, sehingga tidak pada tempatnya kalau saya kesal meskipun dia sudah mengabaikan teguran pertama saya.

Kasus yang terakhir adalah kemarin.

Seorang anggota tim saya secara mendadak mengundurkan diri. Betul-betul mendadak, karena dia baru bilang after lunch, bahwa besok (hari ini) dia sudah tidak akan masuk. Keputusan dia sudah final, jadi bukan merupakan hal yang bisa dinegosiasikan lagi.

Yang mengherankan saya, dia berulang kali mengakui bahwa dia malu. Malu karena pernah berbohong ijin pergi ke kampus (padahal mengikuti test di perusahaan lain). Malu karena mendadak mengundurkan diri tanpa memberi kesempatan untuk mempersiapkan pengganti.

“Saya malu, saya tidak bangga atas kelakuan saya. Tapi jujur saya akui bahwa saya juga ingin mementingkan diri sendiri (yaitu meraih cita-citanya bekerja di tempat baru).”

Weleehhhh…!!!

I’ll tell you the truth. Cuma bicara di mulut itu sama sekali tidak cukup, Jenderal! Yang penting saya sudah jujur, yang penting saya gak munafik, yang penting bicarakan baik-baik, maaf saya malu. Itu semua bull-shit! NATO! No action talk only .

Anda menyesal, Anda menyadari kesalahan Anda, fine, itu berarti hati nurani Anda masih bekerja dengan baik. Tapi kalau berhenti sampai di mulut saja, apa gunanya? Siapapun bisa dengan gampangnya mengatakan apapun. Yang membedakan penyesalan yang sungguh-sungguh dengan yang asal bicara adalah TINDAKAN yang diambil setelah mengucapkan penyesalan tsb. Buktikan dong, buktikan!

HANYA jujur MENGAKUI akrab/selingkuh dengan WIL/PIL tidak akan membuat luka yang ditimbulkannya jadi hilang, apalagi kalau setelah itu masih meneruskan hal yang sama. Harusnya BERTINDAKLAH yang benar, yaitu menjaga jarak dari WIL/PIL itu.

HANYA MENYADARI bahwa apa yang sedang Anda lakukan ini salah dan merugikan orang lain, tapi tetap melanjutkan niat Anda tanpa peduli bagaimana orang lain membereskan kekacauan tersebut, tidak akan membantu sama sekali. Mestinya tunjukkan niat baik dengan mau berkorban sedikit.

Ada pepatah yang mengatakan: “Orang dinilai dari perbuatannya”. Betul sekali!

So, jangan hanya di mulut. Instead, think about this: “apa yang harus saya lakukan untuk memperbaiki kekacauan yang sudah saya buat?”.

Apa yang diucapkan mulut saja tidak akan semerta-merta menghalalkan perbuatan yang memang sudah salah.

Reaksi

Ketika diminta mengomentari sesuatu yang tidak terlalu bagus (baca: jelek), reaksi apa biasanya yang Anda pilih?

a. Berkomentar jujur apa adanya bahwa itu masih jelek.

b. Berpura-pura mengatakan bagus karena tidak ingin menyinggung/mengecilkan hati ybs.

c. Diam.

d. Mencari sisi lain yang positif yang bisa dipuji, kemudian mengutarakan pujian tulus atas hal tsb.

Reaksi yang umum adalah dari a sampai c. Reaksiku juga kurang lebih bervariasi antara ketiga hal itu.

Tapi ada beberapa orang yang mampu mencapai tahap d.

Menurutku orang-orang seperti itu hebat, karena mereka mau membuat USAHA yang LEBIH untuk MENEMUKAN hal-hal positif dibalik yang terlihat. Dan mungkin mereka juga sangat menyadari bahwa kritik (a) tidak lebih mudah diterima daripada kebohongan (b), khususnya bagi orang-orang yang masih sangat membutuhkan dorongan untuk maju.

Walaupun aku masih termasuk golongan orang kebanyakan yang reaksinya berkisar di a-b-c (sehingga rasanya tidak pantas kalau mengeluhkan reaksi a-b-c yang aku terima dari orang lain), toh aku sendiri pernah beberapa kali merasakan betapa sedihnya menerima komentar jujur yang apa adanya.

Yang paling baru, ada yang bilang: “Kamu cukup berbakat walaupun tidak istimewa.”

Wadouw! “tidak istimewa”-nya itu lho, sangat mengecilkan hati. :(

Semoga hal ini menjadi pelajaran bagiku untuk lebih menenggang perasaan orang lain ketika hendak memberi komentar.

Jujur memang baik. Tapi mungkin ada saatnya untuk memilih bersikap bijaksana daripada bersikap jujur. ;)

Wisata PO

Ini adalah catatan perjalanan wisata kuliner yang pada akhirnya berubah menjadi wisata PO.

Apa tuh PO? Hehe. Maksudnya FO alias factory outlet. Tapi di Bogor pada nyebutnya “paktori outlet”, sehingga kalau disingkat jadinya PO. Gak salah dong? ;)

Mmm, karena lagi males nulis panjang-panjang, kali ini ceritanya pake foto aja deh.

BerangkatFoto 1. Berangkat naik Pakuan Express dari Gambir jam 7.44 pagi

 

 

 

 

 

 

 

Bakmi SahabatFoto 2. Tujuan pertama: makan di Bakmi Sahabat (lokasi: samping rumah sakit, dekat sekolahan Regina Pacis)

 

 

 

 

Menuju Apple PieFoto 3. Dari tempat bakmi, jalan kaki menuju tempat apple pie (jauh banget!)

 

 

 

 

 

 

MencuciFoto 4. Di perjalanan banyak yang unik-unik, salah satunya orang nyuci pake kolor doang

 

 

 

 

 

KepikFoto 5. Trus ketemu ayam, ketemu kepik emas yang lucu, dan jamur segede bagong

 

 

 

 

 

PastriesFoto 6. Perhentian kedua: makan di Pia Apple Pie (udah tengah hari euy)

 

 

 

 

Makan PieFoto 7. Suasana di dalam Pia Apple Pie

 

 

 

 

 

 

Pia Apple PieFoto 8. Mejeng di depannya

 

 

 

 

 

 

BertigaFoto 9. Makan batagor dan pempek di kantin Fame ‘n Famous

 

 

 

 

Butik MarcheFoto 10. Selanjutnya berubah jadi wisata PO deh; ini plang Boutique Outlet Marche

 

 

 

 

 

 

Pamer belanjaanFoto 11. Pamer belanjaan (gak banyak kok)

 

 

 

 

Makaroni panggangFoto 12. Keluar dari FO sudah malam, mampir dulu di tempat makaroni panggang, beli bawa pulang

 

 

 

 

 

Pulang KRLFoto 13. Akhirnya pulang ke Jakarta naik KRL jam 7.15

 

 

 

 

KESAN:

1. Jalan kaki di Bogor gak enak, karena banyak jalan yang gak ada trotoarnya. Kontur jalanan banyak yang naik turun, jadi lumayan cape. Tapi enaknya masih banyak pohon besar, jadi gak begitu panas.

2. Apple pie di “PIA Apple Pie” menurutku sih biasa aja, gak sampai level “enak banget”. Trus jus buahnya kurang dingin dan terlalu manis. Jus strawberry-nya kalah jauh dengan buatan Kebon Strawberry di Lembang (ya iyalaaahh).

3. Recommended FO: “Fame ‘n Famous” di jalan Padjajaran.

4. Makan di “Bakmi Sahabat” itu worth banget. Bakminya enak, boleh pesan setengah porsi. Kemarin makan bertiga cuma habis kira-kira Rp 35.000. Bandingkan dengan batagor di depan butik “Marche” yang Rp 28.000 seporsinya.

5. Makaroni panggang –> ENAK BANGET!! Mahal sih, Rp 79.000 (yang spesial, ukuran sedang), tapi asli TOP BGT!

6. Ternyata pemilik Pia Apple Pie dan Macaroni Panggang itu sama. Selain dua jenis makanan itu, si pemilik juga punya “Death by Chocolate” (dan 2 kafe lagi, cuma aku lupa namanya).

7. Taksi Jakarta sudah banyak yang masuk Bogor. Yang kemaren terlihat adalah Blue Bird dan Putra.

8. Terakhir: Bogor kota hujaaaaannnnn… jadi musti siap dengan berbagai alat pelindung seperti payung, topi, jaket. :)

9. Eh masih ada yang lebih akhir ding. Kalau pulang ke Jakarta naik KRL after jam 5, ada kemungkinan cuma sampai stasiun Manggarai, walaupun resminya harusnya sampai stasiun Kota. Trus, ternyata naik KRL gak punya tiket pun gak diapa-apain sama kondekturnya (!).

Demikianlah kisah wisata kulinerku.. eh PO.. eh FO.. eh.. ah gitu lah pokoknya. :D

Krisis Air Bersih

Aduh! Pagi ini aku kelimpungan karena di kantor gak ada air bersih. Air yang mengalir dari keran berwarna coklat seperti Pepsi Cola. :(

Gimana kalau sampai siang masih seperti itu?? Ternyata oh ternyata, kebutuhan primer di kantor itu bukan cuma kertas, listrik, dan stationery. Tidak ada air bersih berarti tidak bisa mencuci gelas untuk minum, tidak bisa menunaikan “panggilan alam”, dan tidak bisa membilas tangan setelah makan.

Moga-moga krisis ini cepat berakhir.

Being A Perfectionist

Sebagai seorang Melankolis Sempurna, seringkali aku bertindak sebagai tukang kritik untuk suatu hasil pekerjaan.

Dua sifat si Melankolis yang sangat nyata pada diriku adalah: detailed dan perfectionist. Berkat dua sifat itu aku sangat mudah menemukan kesalahan-kesalahan yang perlu dikoreksi, bahkan kesalahan yang sepele sekalipun. Rasanya ngganjel kalau aku membiarkan saja (karena toh sepele misalnya). Ya begitulah sifat perfeksionis ya?

Menjadi agak mengesalkan kalau setelah aku mengoreksi satu hal, masih saja aku jumpai kesalahan yang sejenis. Rasanya seperti: “Why didn’t you learn from your mistake? Don’t you want to be better? Don’t you set your own standard before asking someone else’s approval?”

Tapi untunglah selain sebagai Melankolis, aku juga seorang Phlegmatis yang damai, sehingga kalaupun aku menemukan kesalahan, jarang aku sampai marah-marah. Yaaahh.. kecuali kalau udah keterlaluan banget ya.

Cuma, karena kedua hal itu sebetulnya bertentangan (perfeksionis vs gak enakan sama orang), akibatnya sering aku kesal sendiri kayak gini. Dan harus aku akui, walaupun aku gak marahin orang, tapi di mataku penilaian buat ybs jadi agak turun sedikit. :)

Ditambah sifat revengeful yang tetap mengingat suatu kejadian meskipun sudah lama berlalu, rasanya akan cukup sulit untuk menghapus image yang telanjur melekat itu, hehe.

Any comments?

*ayo dong, yg baca blog ini kasih komentar. aku tau ada bbrp org yg suka baca, tp kok diem-diem aja sih. ;) *

Demi Sebuah Kerinduan

*ciee.. romantis ya judulnya, hihi*

Di usiaku yang udah kepala *teeett.. sensor* ini, aku bersyukur karena masih bisa mencicipi lagi salah satu kegiatan favoritku semasa muda dulu, yaitu “jalan-jalan” ke tempat wisata alam. Yah, gak seratus persen sama sih, dulu jauh lebih berat medannya, tapi tujuan akhirnya yaitu menikmati segarnya alam bebas masih sama.

Wisata di Garut akhir bulan lalu, seperti membuka keran kerinduanku pada wisata alam. Dan mengamini teori The Secret, alam semesta ini memang sepertinya bergerak untuk mewujudkan keinginanku. Buktinya, kok ya bisa-bisanya beberapa hari setelah pulang dari Garut, aku beli Intisari yang ada artikel tentang beberapa curug di daerah Bogor. Trus kok pas punya temen yang hayu aja tanpa ba-bi-bu mau aku ajak jalan tanpa ngeribetin tetek bengek persiapan dll. Trus kok ya bisa pas hari H itu perutku adem ayem gak sakit, padahal sehari sebelumnya sakitnya minta ampun (lagi AV hari kedua lho!).

Ya sudah, cukup pembukaannya ya, hehe. Jadi inilah liputan perjalananku ke Curug Cilember.

Wana Wisata Curug Cilember berada disebelah kiri jalan jalur Ciawi – Puncak, tepatnya di Cisarua ± 15 Km dari pintu tol Gadog (Jagorawi). Berbekal informasi yang minim (sebetulnya gak minim juga sih, wong udah googling 2 hari sebelumnya, dapet artikel yang jelasin rutenya. tapi dasar aja males ngapalin, hehe), hanya dengan kendaraan umum, kami ketemuan di stasiun Bogor. Keluar stasiun tinggal tanya orang sekitar situ aja, mau ke Curug Cilember naek apa. Gampang toh. Jadi sebetulnya aku gak usah tulis di sini ya angkotnya apa aja? Toh percuma, mungkin yang baca juga akan mengikuti cara kami yaitu langsung nanya di Bogor daripada susah-sudah ngapalin, hihihi.

Eh tapi demi kelengkapan jurnalistik ya sudahlah aku tulis aja. :P Ini dia.

Jakarta – Bogor : naik kereta Pakuan Express yang jam 7.44 pagi dari Gambir (kalau mau lebih pagi silakan naik KRL dari Stasiun Kota). Kalau pake Pakuan Express siapin jaket ya, soalnya AC-nya dingin banget. Oya, harga tiket Pakuan Express Rp 13.000,- sedangkan tiket KRL Rp 2.500,- (jauh banget yaaaaaa.. ya iyalah, kondisi keretanya juga bagai langit dan bumi – lihat foto).

pakuankrl

Stasiun Bogor – Sukasari : naik angkot 02 yang setrip bawahnya merah. Bogor tuh angkotnya ajaib, nomor sama tapi bisa beda trayek. So, teliti sebelum naik angkot. Trus kayaknya hanya di Bogor deh yang kursi depannya cuma boleh diisi 1 penumpang, biasanya kan 2 orang yah.

Sukasari – Cisarua : naik angkot warna biru jurusan Cisarua (gak ada nomor!). Turun di daerah yang dikenal dengan nama USU. Katanya dulu itu hotel terkenal, tapi sekarang udah gak ada. Tapi orang Bogor pasti pada tau deh.

USU – Cilember : naik ojek deh, bayar Rp 10.000 per orang.

penunjukjalanSepanjang perjalanan naik ojek aku menjumpai beberapa villa. Ih gak nyangka deh di daerah situ banyak villa, bahkan salah satunya punya kolam renang. Udara cukup dingin, apalagi saat itu habis hujan. Buat yang berencana liburan dan ingin menyewa villa, daerah ini boleh jadi alternatif, gak usah jauh-jauh ke Puncak.

Di gerbang masuk bayar tiket dulu Rp 5.000. Objek wisata ini terdiri dari camping ground, rumah kupu-kupu, beberapa villa (bisa disewa), hiking track, dan tentu saja yang utama yaitu curug tujuh tingkat. Yang paling dekat (paling bawah) disebut curug ketujuh, lalu di atasnya curug keenam, dst.

Untuk menuju curug ketujuh sudah dibuat jalan yang nyaman dan aman, berupa undak-undakan dari batu. Jadi gak bisa dibilang hiking, karena gak ada susah payahnya sama sekali, hehe. Sekitar situ juga bertebaran toilet dan tempat ganti baju, tenda-tenda yang siap disewa, dan warung-warung. Pokoknya udah gampang banget lah.

curugTapi karena aku tiap sebentar motret, jadinya lelet deh di jalannya. Nyampe ke curug ketujuh tuh udah tengah hari. Dan karena sebetulnya hari itu cuaca mendung, begitu sampai sana malah hujan. Oh kameraku! Basah deh. Tapi nekad aja ah, masa objek utamanya gak difoto? Niatnya sih pengen mempraktekkan slow speed. Kata temenku, motret air terjun paling bagus dengan slow speed sehingga aliran airnya terlihat lembut seperti kapas. Sayang aku lupa bawa tripod. Meskipun kalau bawa bakal jadi ribet sih nentengnya, hehe. Jadi lah hasilnya gak sebagus yang aku harapkan. :(

Oya, air di sana dingiiiiiin sekali. Apalagi kalau nyemplung ke kolam yang terbentuk oleh cucuran si curug itu ya. Aku sih gak nyemplung, karena gak bawa baju ganti, juga karena lagi AV. Emm, juga karena airnya gak jernih, coklat. Entah memang selalu gitu atau karena hujan.

Rencana awal, kami mau ke curug yang lainnya, bahkan kalau bisa sampai ke curug paling atas. Ndilalah si hujan itu mengacaukan segalanya. Terlalu bahaya kalau jalan mendaki selagi hujan kan? Licin gitu. Soalnya, beda dengan rute menuju curug ketujuh, jalan ke curug yang lain itu masih alami. Bahkan ketika kami (terpaksa) berteduh di warung, ngobrol punya ngobrol, ternyata untuk menuju curug pertama saja dibutuhkan waktu seharian. Hahaha.. aku malu sendiri deh, udah ngegampangin. Mana bisa tujuh curug dicapai semua dalam sehari. Yah, namanya juga minim informasi. ;)

tamankupuPada akhirnya, hari itu kami cuma sampai di curug ketujuh lalu menghabiskan sisa waktu di warung. Sebelum ke situ sempat masuk ke rumah kupu-kupu sih. Ngobrol dengan mbak penjaganya yang sangat antusias. Kayaknya jarang ketemu pengunjung yang cerewet doyan ngobrol kali ya, sehingga begitu ketemu kami, si mbak seneng banget, hehe. Kupu-kupunya sendiri malah gak keliatan batang hidungnya (emang kupu-kupu punya hidung?). Kalau hujan mereka memang akan kuncup, eh ngumpet, karena mereka ini hanya ceria kalau cuaca cerah dan terang. Kayak laron gitu deh, tertarik dengan sumber cahaya.

Oya, untuk yang belum tau, HARAP CAMKAN INI. Kupu-kupu itu umurnya hanya mingguan, setelah itu dia akan mati. Gak akan berubah jadi kepompong! Huahahahaha. Yang berubah jadi kepompong itu ulat. Baru setelah kepompong, berubah jadi kupu-kupu. Hihihihihi. *hai! :P *

kupuSampai di mana tadi? Oh ya, berteduh di warung…

Iya, ternyata hujannya awet, jadi akhirnya nongkrong deh di warung. Makan jagung bakar dan minum teh panas. Ngobrol. Ngeliat foto-foto. Ke toilet. Minum bandrek. Ngobrol. Ke toilet lagi. Jadi jauh-jauh ke Cisarua cuma buat bolak-balik ke toilet? Hehehe. *hiperbola*

Sekitar jam 5 atau jam 6 sore (lupa), kami turun, naik ojek lagi. Waaaahh.. di perjalanan pulang itu dapet bonus! Ada kabut lho. Duuhh.. senengnya. Sejuk, dingin, segar. Tiada duanya deh pokoknya. Waktu di motor sebetulnya aku pengen minta berhenti tuh. Biar bisa agak lama menyerap udara sejuk dari alam yang masih murni. Gak kayak Jakarta, huh. Tapi khawatir hujan lagi. Jadi juga tidak ada foto-foto kabut deh.

Oya, kami kan pergi dan pulang naik angkot tuh. Kalau ditotal ada 4 kali. Lucu deh, di keempat-empatnya itu kami selalu jadi penumpang terakhir. Bisa kebetulan gitu. *trus kenapa? apa pentingnya diceritain? ya gpp, pengen aja cerita, ini kan blog-ku :P * Oh, satu pesan nih dari pengalaman pribadi. Kalau bisa pulanglah (dari curug) sebelum jam 5 sore. Di atas jam segitu jalur Cisarua-Ciawi bisa jadi udah macet. Tapi kalau bisa menikmati kemacetan sih ya gpp. :)

Ada satu lagi yang cukup lucu. Waktu di angkot, sempat melewati penjual ayam goreng yang di gerobaknya tertulis: KU-FC (instead of KFC), yaitu singkatan dari “Ken tuku fried chicken”. Aku pikir-pikir apaaa ya “ken tuku” itu maksudnya? Apa bahasa Jawa yang berarti “untuk dibeli”? Kalo gak salah “tuku” artinya “beli” kan? Jadi maksudnya “ayam goreng untuk dibeli”. Hehe, kreatif memang para pedagang kaki lima itu.

Err.. satu lagi ya. Dari kost aku pake sepatu semi kets lengkap dengan kaos kaki. Mestinya sepatu kets beneran, tapi kok ya waktu itu aku cari gak ketemu (terakhir dipake waktu mengarungi danau Jakarta bulan Februari lalu). Berhubung itu sepatu udah lama gak dipake, jadi sesampai di stasiun Bogor aku udah lecet. Yah, akhirnya beli sandal dulu deh di pasar. Jadi, tetep, ke curugnya nyendal jepit juga (selama ini kalau jalan-jalan ke mana-mana memang aku selalu pake sendal jepit, sendal andalan). Padahal sih untuk tempat yang becek dan licin lebih afdol pake sepatu kets.

Next time deh, balik lagi ke sana. Atau ke curug lainnya. Masih ada Curug Luhur, Curug Nangka, dan beberapa curug lagi di sekitar gunung Salak. Harus. Soalnya belum puas sih. :)

Emm.. mohon maaf kalau foto-foto di sini gak nyambung sama paragraf ybs. Cerita lebih detilnya lebih baik liat di flickr aja ya. Biar gambar yang bicara.