Guru Juga Manusia Biasa (?)

hut-ri-65

Dalam dialog di sebuah kelas, seorang guru menjelaskan proses menetasnya telur ayam yang memerlukan waktu 21 hari untuk dierami sang induk.

Seorang murid lalu bertanya, “Bu Guru, kenapa mesti 21 hari, tidak 25 atau 20 hari?”

Guru menjawab, “Kalau 25 hari terlalu lama sedangkan jika 20 hari terlalu cepat, jadi pasnya ya 21 hari itu.”

- dialog lain… -

“Bu Guru saya mau bertanya kejadian di rumah kemarin saat ibu saya menggoreng kerupuk. Kenapa kerupuk yang masih panas selesai digoreng rasanya kurang renyah, sedangkan kerupuk dingin lebih garing dan kriuk-kriuk?”

Ibu guru yang sama menjawab, “Itulah bedanya antara kerupuk panas dan kerupuk dingin.”

Sang murid kemudian terdiam dengan penuh rasa kepenasarannya. Mau bertanya kepada siapa? Seharusnya guru dapat menjelaskan fenomena yang ditanyakan siswanya itu.

(dikutip dari majalah Tempo edisi 16-22 Agustus 2010)

Hmm, kalau aku yang jadi muridnya pasti melongo, dan dalam hati menggerundeng: Ibu guru yang aneh, tidak menjawab pertanyaan sama sekali, cuma mengulang apa yang saya tanyakan.

+Bu, kenapa matahari terbit di sebelah timur?

-Ya karena dia tidak terbit di sebelah barat, Nak.

*gubraks!*

Ini bukan lelucon, dan tidak mengada-ngada. Ini memang kenyataan pahit kualitas pendidikan di negeriku tercinta. Yah, guru juga manusia, bisa (sering) salah.

Aku jadi ingat nun bertahun-tahun lampau, di hari-hari pertamaku sebagai siswa kelas 1 SMA, di kelas pelajaran BP.

Bapak guru kami memberikan serangkaian kata sifat, lalu menyuruh kami mengurutkan kata-kata tersebut, dimulai dari sifat yang menurut kami paling penting sampai kurang penting.

Tiga kata sifat di antaranya: tegas, jujur, bijaksana.

Bapak guru bertanya apa jawabanku, dan kujawab: pertama bijaksana, kedua tegas, ketiga jujur.

Sang bapak bertanya, “Kenapa bijaksana paling atas?”

Kujawab, “Karena menurut saya orang bijaksana pasti tau kapan harus tegas atau jujur, Pak, sedangkan orang tegas belum tentu bijaksana, orang jujur juga belum tentu bijaksana.”

Apa respon guruku? “Oohh, jadi kalau kamu jadi hakim, ada maling bisa kamu lepasin dong? Malingnya kan bilang, ‘yahh pak mohon kebijaksanaannya dong, lepasin saya’.”

Dueerr! Aku speechless waktu itu. Bagaimana mungkin seorang guru tidak mengerti bahwa frase “mohon kebijaksanaannya pak/bu” (yang lazim diucapkan dewasa ini) sebenarnya sudah salah kaprah? Apakah dia tidak mengerti makna kata sifat “kebijaksanaan” yang sebenarnya, yang aku tempatkan di urutan pertama tadi?

Mundur lebih jauh lagi ke masa SMP, aku mengenang seorang guru yang menjelek-jelekkan guru lain di hadapan kelas, di depan murid-muridnya, membuka aib guru yang berseteru dengannya tersebut.

Aku ingat betapa bingungnya aku saat itu, kenapa dia melakukan hal tsb padahal kami selalu diajarkan agar tidak bergembira di atas penderitaan orang lain dan agar hidup rukun dengan sesama. Aku ingat bahwa alih-alih hormat kepada guru tsb, dalam hati aku malah bersimpati pada guru yang tertimpa aib.

Kesan terdalam yang terpatri sampai sekarang adalah rasa kecewa. Ya, kecewa karena sosok panutan sang guru ternyata bukan tanpa cacat. Kecewa karena hanya dalam sekejap aku kehilangan kepercayaan pada orang yang mestinya layak dipercaya.

Guru juga manusia biasa. Memang benar, tapi… entah ya, menurutku sebiasa-biasanya seorang guru, dia mestilah punya karakter yang lebih baik daripada murid-muridnya orang biasa yang bukan guru.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-65!

Related posts:

  1. Reaksi Ketika diminta mengomentari sesuatu yang tidak terlalu bagus (baca: jelek),...
  2. Jangan Hanya di Mulut Dalam beberapa kali kesempatan, saya bertemu jenis orang yang sepertinya...
  3. Saksi Hidup Ada sebuah dialog mengenai pernikahan dari salah satu film *judulnya...
  4. Being A Perfectionist Sebagai seorang Melankolis Sempurna, seringkali aku bertindak sebagai tukang kritik...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>