
Aku (eh, aku? nggg… gpp anggap aku aja deh ya
) punya mainan baru…
Canon EOS 500D ini punya 2 nama: yang dipasarkan di Jepang dikasih label Kiss X3. Saudara kembarnya di Amerika, labelnya Rebel T1i.
Waktu beli di toko online, aku gak tau bahwa si EOS 500D ini punya 2 nama. Di product list toko tsb tercantum “Canon EOS 500D / Kiss X3″, jadi ya itulah yang aku dapat.
Setelah barangnya datang, bongkar kardus, baru bingung… lho kok buku panduannya tulisan kanji kabeh? Memang sih berlebihan kalau berharap petunjuknya dalam bahasa Sunda *grin*, tapi at least bahasa Inggris laaah. Eh ternyata gak ada. Ya sudahlah nasib. Jadi learning by doing saja. Untung aku cerdas… hahahaha…
WARNING: Untuk teman-teman yang berencana beli kamera Canon seri EOS, perhatikan apakah nama aliasnya Kiss atau Rebel. Kalau Anda menginginkan buku panduan dalam bahasa Inggris, pilihlah yang Rebel. Kemungkinan besar yang Rebel masuk Indonesia melalui Datascript, sehingga garansinya garansi Datascript dan harganya lebih mahal daripada yang Kiss (garansi toko).
Tapi untuk kualitasnya sih mestinya sama aja, karena dua-duanya dirilis oleh Canon kok. Oya, meskipun yang Kiss buku panduannya bahasa Jepang, tapi menu di kameranya bisa diset bahasa Inggris.
Berikut ini sekedar info untuk beberapa seri EOS beserta nama-nama aliasnya:
EOS 400D –> Digital Rebel XTi atau Kiss Digital X
EOS 450D –> Rebel XSi atau Kiss X2
EOS 1000D –> Rebel XS atau Kiss F
EOS 500D –> Rebel T1i atau Kiss X3
EOS 550D –> Rebel T2i atau Kiss X4
Lanjut….

Canon EOS 500D (Digital Rebel T1i / Kiss X3 Digital)
Aku beli Kiss X3 kit, jadi udah termasuk lensa standar 18-55mm. Tapi karena udah bosan puas bermain-main di lensa tsb bersama Nikon D40-ku, untuk kali ini aku beli juga lensa fix 50mm. Dengan lensa ini bisa main-main bokeh lebih asik, secara bisa dapet bukaan lebih lebar, sampe f/1.8.
Sampai hari ini belum banyak eksplorasi keunggulannya si Kissy. Yang jelas Kissy bisa ISO 100, sedangkan D40-ku dulu ISO terendahnya 200 saja. Well, kayaknya dengan ISO 100 aku bisa eksplorasi motret air terjun atau sungai pake teknik slow speed. Dulu dengan D40 gak berhasil pake kecepatan yang cukup lambat, karena cahaya masuk jadi terlalu banyak akibat ISO-nya mentok di 200 saja (walaupun sudah pake bukaan terkecil).
Anyway… ada satu quote lucu…
“Buying a Nikon doesn’t make you a photographer. It makes you a Nikon owner.”
Okay, so now I’m a Nikon-and-Canon owner, and still not a photographer.
Related posts:
- Halo Bulan Barusan, tanggal 8 April 2009 sekitar jam setengah 12 malam,...
huaaahhh…pindah agama yeuh???
pantes waktu itu ngajakin hunting, udah punya gandengan baru ternyata
oh iyaa pantes aku suka bingung ada orang yang nyebutnya kiss, ternyata sama dengan rebel yak?
Numpang lewat kang
Keyword saya di mbah google “eksplorasi dgn eos 550d”, eh masuk ke blog akang ini.. maksudnya saya mau belajar, jujur saya beli 550d tapi gak ada dasar megang dslr sebelumnya..nekad ya..jdi hasil jepret tetap kayak foto henpon
yg lucu di penutup postingan akang: “Okay, so now I’m a Nikon-and-Canon owner, and still not a photographer.” ahahaha