Mencari Perpustakaan di Jakarta?

Perpustakaan Freedom
Jalan Proklamasi No. 41, Menteng, Jakarta Pusat, persis di seberang Tugu Proklamasi. Nomor telepon 021-31909226

Perpustakaan Daniel S. Lev
Jalan Puri Imperium Office Plaza, UG-16, Jl. Kuningan Madya Kav. 5-6

Perpustakaan Japan Foundation
Jalan Jenderal Sudirman Kaveling 61-62 Gedung Summitmas I lantai 2

Perpustakaan Nasional RI
Jalan Salemba Raya 28A, Jakarta Pusat

Perpustakaan Diknas
Gedung A lantai 1 dan Mezanin, Jalan Jenderal Sudirman, Senayan

Perpustakaan UI
Kampus Universitas Indonesia

Reading Room
Jalan Kemang Timur no. 57a-b

Perpustakaan Rujak Center for Urban Studies (RCUS)
Gedung Ranuza lantai 2, Jalan Timor No. 10, Menteng, Jakarta Pusat

Comic Cafe
Jalan Tebet Utara Dalam

Perpustakaan Umum Jakarta Barat
Jalan Tanjung Duren

Sumber:

http://id.berita.yahoo.com/foto/perpustakaan-tersembunyi-jakarta-slideshow/perpustakaan-photo-1335118503.html

http://www.hedwigus.com/1-perpustakaan-umum-jakarta-barat

Apa itu Fiksi Distopia?

Distopia adalah bentuk sastra yang mengeksplorasi struktur sosial dan politik. Di mana ada sebuah dunia yang bagaikan mimpi buruk (kebalikannya adalah Utopia, yang merupakan dunia yang ideal). Distopia sering ditandai oleh bentuk pemerintahan otoriter atau totaliter. Sering menampilkan berbagai jenis represif sistem kontrol sosial, kurangnya atau tidak adanya kebebasan dan ekspresi individu, dan keadaan perang atau kekerasan yang konstan. Banyak novel menggabungkan Distopia dan Utopia, untuk menggambarkan pilihan-pilihan yang dapat diambil oleh umat manusia, dan berakhir dengan salah satu dari dua kemungkinan masa depan tsb.

(Sumber: http://www.goodreads.com/genres/dystopia)

Novel-novel populer yang termasuk genre distopia di antaranya:

Serial The Hunger Games

Serial The Uglies

Serial Maximum Ride

… selain itu….

The Host

Never Let Me Go

The Maze Runner

Blindness

Animal Farm

1984

The House of the Scorpion

Delirium

Wither

Gara-gara The Hunger Games, tema distopia jadi populer nih!

Ketika Seluruh Dunia Buta

blindness

Wah, ini buku yang mengejutkan. Saya beli buku ini karena pas sedang kehabisan bacaan, pas ada diskon buku ini di Bookoopedia. Waktu memutuskan membeli, saya tidak terlalu berharap akan mendapat pengalaman membaca yang “beda”.

Tapi ternyata yang terjadi melebihi ekspektasi saya. Membaca buku ini membuat saya merasakan berbagai gejolak. Dan bagi saya, buku yang bagus adalah buku yang bisa membuat saya bergejolak itu.

BLINDNESS.

Sesuai judul dan sinopsisnya, buku ini berkisah tentang kebutaan. Di suatu negeri tak bernama, muncul wabah kebutaan. Dimulai dari seorang pria yang sedang menyetir mobilnya di jalan raya, yang tiba-tiba buta waktu sedang berhenti di lampu merah. Buta begitu saja tanpa ada gejala sakit sebelumnya. Buta yang berbeda dengan kebutaan pada umumnya. Dunia tidak menjadi gelap, melainkan justru menjadi putih menyilaukan. Buta putih, mereka menyebutnya.

Bila kebutaan yang kita kenal selama ini tidak menular, buta putih justru bisa menular. Waktu si pria buta pertama tadi ditolong dan diantar pulang oleh seorang pria lain, yang belakangan tergoda mencuri mobil si pria buta, tidak lama kemudian si pria penolong pun menjadi buta. Waktu si pria buta pertama -dengan diantar istrinya- memeriksakan matanya ke dokter mata, tidak lama kemudian si dokter mata pun buta. Demikian juga sang istri.

Pada gilirannya, pasien-pasien sang dokter (yang sempat berkonsultasi dengan si dokter mata dan sempat berpapasan di ruang tunggu dengan pria pertama) pun berturut-turut menjadi buta. Ada seorang pasien yang bekerja sebagai pelacur. Dia buta waktu sedang di kamar hotel. Maka pelayan yang bertugas membereskan kamar tersebut pun menjadi buta.

Si pencuri mobil yang tadi menolong pria buta pertama? Dia pun menjadi buta. Sehingga waktu polisi menangkapnya, segera pula sang polisi tertular buta.

Apoteker yang melayani resep dari pasien dokter mata… juga buta.

Waktu pemerintah memutuskan untuk mengkarantina para orang buta ini di sebuah rumah sakit jiwa, tidak terelakkan setiap orang yang berinteraksi dengan mereka pun tertular.

Polisi-polisi dan sopir yang menjemput mereka…

Tentara yang menjaga mereka…

Jangan lupa bahwa setiap orang punya tetangga, teman, keluarga , toko langganan, orang asing yang berpapasan di jalan. Maka tinggal masalah waktu saja sampai seluruh kota dan seluruh negara menjadi buta semuanya.

Buku ini mengeksplorasi aspek humanity yang mendadak gamang ketika setiap orang buta. Bayangkan saja situasinya. Dalam kondisi normal, orang buta masih bisa survive sebab masih ada orang-orang lain yang tidak buta. Masyarakat dan pemerintahan bisa menyokong kehidupan orang buta dengan bantuan fisik, fasilitas umum, bahan-bahan makanan, dan sistem yang sudah tertata rapi . Namun, bayangkan kalau kamu buta, dan semua orang lain juga buta.

Siapa yang akan menjaga toko? Siapa yang akan mengoperasikan instalasi listrik? Instalasi air? Lalu lintas? Siapa yang bisa menunjukkan arah bila Anda tersesat kalau semua sama butanya? Bagaimana kita saling mengenali kalau kita semua tidak bisa melihat? Sistem pemerintahan, sistem perekonomian, sistem sosial, mendadak kacau balau ketika semua manusia yang menjalankan sistem tersebut kehilangan penglihatannya.

Dan bagaimana Anda mempertahankan aspek manusiawi Anda? Hal yang paling mendasar saja, seperti membuang hajat, segera menjadi kacau. Bukan hanya karena sulit berjalan bolak-balik ke kamar mandi tanpa melihat, tapi juga karena dengan segera air menjadi sulit didapatkan. Selama ini kita tidak pernah menyadari betapa tergantungnya kita pada air. Bayangkan seperti apa kondisinya, baik sang manusia maupun lingkungannya, setelah lewat beberapa minggu, beberapa bulan.

Membaca buku ini saya sering bergidik jijik. Saya juga merasa ngeri membayangkan bila saya menjadi salah satu tokoh di dalam sana. Saya bertanya-tanya seperti apa yang akan saya rasakan kalau saya juga buta. Saya pun turut merasa marah dan mengutuki sebagian tokoh di novel ini, yaitu sekelompok orang buta yang memanfaatkan pistol yang kebetulan mereka miliki, untuk merebut hak kelompok lain. Saya marah dan sakit hati waktu sampai di bagian di mana kelompok begajul tersebut menuntut upeti berupa layanan seksual dari para perempuan sebagai ganti jatah makanan. Mengapa lagi-lagi perempuan yang menjadi korban?

Gejolak-gejolak perasaan itulah yang saya rasakan waktu membaca buku ini. Tidak banyak buku yang berhasil melakukannya.

So, dari tema cerita, saya memberi penilaian tinggi kepada buku ini.

Sayangnya, gaya penulisannya kurang pas dg selera saya. Banyak bagian yang disampaikan melalui narasi. Padahal kalau dituangkan dalam bentuk dialog, mungkin akan lebih mengalir. Selain itu, kertas yang digunakan adalah kertas buram. Sudah ceritanya bernuansa buram, bacanya pun buram. Ukuran hurufnya lumayan kecil pula.

Selain itu, sang penulis tidak memberikan nama untuk semua tokoh di buku ini. Unik sih. Jadi penyebutannya ya seperti di atas itu. Si pria buta pertama, si polisi, si pencuri mobil, si dokter mata, si istri pria buta pertama, si istri dokter, si pelacur, si apoteker. Si tetangga pria buta pertama, si tetangga dokter mata. Si tentara yang menembak, si sersan yang baru. Walhasil, ritme membaca jadi agak lambat.

Trus, satu lagi, endingnya menurut saya terlalu mendadak. Waktu sampai di halaman terakhir, saya membatin… hah? begitu saja? tidak ada penjelasannya nih?

Alhasil, sampai akhir masih menggantung satu pertanyaan BESAR yang tak terjawab. Dan itu membuat saya cukup bete. :p

Tapi overall, ini buku yang bagus. Saya tidak menyesal membelinya, dan saya akan menyarankan buku ini kepada orang lain untuk membacanya juga. :)

Btw, buku ini sudah diadaptasi ke film dengan judul yang sama, Blindness. Jose Saramago juga membuat sekuel dari novel ini dengan judul Seeing. Sayangnya belum diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Judul Buku: Blindness, ditulis oleh Jose Jose Saramago

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Estafet Review Buku yang diselenggarakan oleh Bookoopedia.com. Anda pun boleh ikutan lho! Hadiahnya voucher belanja buku 300 ribu! Lumayan kan? :)

Katniss Everdeen – Gadis yang Terbakar

KatnissUmm, baca buku The Hunger Games ini udah lama, 2 tahun yang lalu. Agak-agak lupa jalan ceritanya. Tapi jadi pingin nulis tentang buku ini, karena kebetulan di 21 Jakarta sedang diputar filemnya.

Buku ini bersetting Amerika Serikat beberapa tahun mendatang. *lupa euy tahun berapanya*. Di masa itu, negara-negara bagian sudah musnah. Sisa-sisanya cuma berupa wilayah yang disebut distrik. Penguasa tunggal tinggal di tempat yang disebut Capitol.

Capitol ini mengontrol distrik-distrik, mereka menuntut kepatuhan penuh. Salah satu kesepakatan yang mereka (Capitol) buat dengan distrik-distik adalah: setiap tahun para distrik harus mengirimkan satu anak perempuan dan satu anak lelaki, untuk berlaga di medan “perang” ciptaan Capitol selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, sampai tersisa hanya satu pemenang saja, yaitu peserta yang berhasil bertahan hidup dengan cara membunuh seluruh peserta yang lain.

Bayangkan, anak-anak remaja nih! Sebelum bertanding, mereka dilatih bertempur dulu, diberi kostum, dibekali senjata dan ilmu bela diri, diwawancara di TV. Oya, selama mereka bertempur, Capitol merekam semua adegan dan mengemasnya menjadi sebuah reality show paling seru, paling real, paling sadis, yang ditonton oleh semua warga Capitol dan warga distrik. Tontonan ini disebut “The Hunger Games”. Penonton bahkan memasang taruhan untuk para peserta ini!

Pemenang Hunger Games akan dihadiahi sebuah rumah mewah di distriknya. Selain itu, dia dan keluarganya akan dijamin seumur hidup kesejahteraannya.

Suatu konsep yang luar biasa, yang dirancang oleh Presiden Snow, untuk menunjukkan siapa yang pegang kuasa dan kendali atas hidup distrik-distrik.

Nah, di suatu distrik, yaitu Distrik 12 yang merupakan distrik termiskin, hiduplah seorang Katniss Everdeen. Ketika penduduk distrik membuang undi untuk menentukan siapa yang harus dikirim ke Hunger Games tahun itu, yang muncul adalah nama sang adik, Primrose. Katniss tidak tega membayangkan adiknya yang masih sangat muda bakal dibantai. Katniss sendiri baru berumur 16 tahun. Maka dia mengajukan diri sebagai pengganti adiknya.

Bersama Peeta Mellark, yaitu anak lelaki pasangannya dari Distrik 12, Katniss pun dikirimlah ke Capitol.

Tak dinyana, kepribadian Katniss membuat banyak orang menjagokan dirinya. Penampilannya di TV, di acara persiapan Hunger Games, disukai pemirsa. Dia dibekali kostum yang atraktif, dan dijuluki sebagai “Gadis yang Terbakar”.

Yang paling seru dalam buku ini, tentu saja adegan laganya. Ada sekitar 14 pasang petarung yang berlaga. *lupa tepatnya berapa, tapi Katniss aja dari Distrik 12, berarti minimal ada 12 pasang. kalau gak salah sih masih ada Distrik 14 lagi* Walaupun mereka anak-anak remaja, tapi adegan laga yang digambarkan bukan permainan anak-anak. Mereka betul-betul harus survive dan membunuh. Pertama mereka harus menghadapi makhluk-makhluk mutan yang sengaja diciptakan oleh penyelenggara. Lalu ada juga jebakan-jebakan yang mematikan dan fenomena alam buatan seperti hujan asam. Betul-betul medan perang di dalam sana! Senjata disediakan hanya di babak pembuka, tapi mereka harus berebut untuk mendapatkan senjata yang mereka mau. Makanan dan minuman juga terbatas.

Membaca adegan-adegan laga The Hunger Games, rasanya adegan-adegan di Harry Potter sih cemen banget. :p

Apakah buku ini semata-mata tentang bunuh-bunuhan? Oh tidak! Bukan cuma itu!

Meskipun memang hal tersebut mengambil porsi cukup besar, novel ini sebetulnya intinya tentang pemberontakan. Nanti di buku lanjutannya (Catching Fire dan Mockingjay ) makin terkuaklah peranan Katniss si Gadis yang Terbakar, sebagai tokoh pemicu pemberontakan.

Buku ini juga dibumbui oleh percikan-percikan romantis di sana sini. Ada kisah tentang cinta segitiga antara Katniss, Peeta, dan Gale (teman Katniss sejak kecil).

Saya memberi bintang 5 untuk buku ini. Very recommended reading! Sekarang sih kalau Anda mau baca sudah enak, soalnya ketiga bukunya sudah lengkap. Dulu saya menunggu lanjutannya lamaaaaa sekali… padahal sangat penasaran, hehe. Syukurlah tidak sia-sia menunggunya. :)

Nah, sekarang filemnya sedang diputar di 21 tuh. Dengar-dengar ada beberapa hal yang berbeda. Yahh biasa, selalu begitu yang terjadi kalau buku difilemkan. Bagusan mana ya? Silakan buktikan sendiri. Saya sih penasaran sama visualisasi kostumnya si Katniss. Dari penggambaran di bukunya sepertinya spektakuler sekali, terutama waktu dia berputar sehingga seolah Katniss dikelilingi api. Kereennn… :)

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Estafet Review Buku yang diselenggarakan oleh Bookoopedia.com. Anda pun boleh ikutan lho! Hadiahnya menarik! :)

Informasi Hotel Melati, Alternatif Penginapan di Garut

Problema khas long weekend bagi para pelancong adalah susah dapat hotel, terutama hotel kelas berbintang, sebab dipastikan sudah fully booked beberapa minggu sebelumnya. Di Garut pun begitu.

Jadi, bagaimana solusinya? Hmm, kalau mau sih boleh nginap di rumah orang tua saya, hahaha… *gak ding, becanda, rumah kami ada di tengah kota, jauh dari Cipanas, shg kurang strategis, lagipula kamu gak akan sanggup bayar tarifnya.. hihihi*

Well, alternatifnya ya mencari penginapan kelas melati. Di Cipanas ada sih beberapa kelas melati, tapi kalau long weekend tetap aja bakal penuh. Mau gak mau musti agak menjauh sedikit dari area Cipanas.

Di Garut ada beberapa hotel melati (atau bintang satu) yang tersedia. Ini dia daftarnya:

Wisma Rengganis
Jl. Rengganis No. 3, Phone : 081-323-329-222

Penginapan Nasional
Jl. Kenanga No. 9, Phone : +62- 262 233251

Wisma Galunggung
Jl. Ciledug No. 146, Phone : +62-262 232597

Losmen Melati
Jl. Karacak No. 2, Phone : +62-262 231900

Penginapan Sederhana
Jl. Guntur No. 52, Phone : +62-262 —

Family Ayu Hotel
Jl. Ranggalawe No. 64, Phone : +62-262 233247

Penginapan Guntur
Jl. Guntur No. 27, Phone : +62-262 231058

Wisma PGRI
Jl. Pasundan No. 41, Phone : +62-262 233488

Wisma PKPN Garut
Jl. Cicendo No. 79, Phone : +62-262 231508

Hotel Paseban
Jl. Otista No. 260A, Paseban, Phone : +62-262 232302; 0262-232100

Hotel Cempaka
Jl. Otista No. 267 (depan hotel Paseban), Phone : +62-262 243650

Alamanda Hotel
Jl. Otista No. 234, Phone : +62-262 0262-541933

Hotel Cipanas Indah
Jl. Raya Cipanas, Phone : +62-262 233736

Pondok Wulandari
Jl. Raya Cipanas No. 99, Phone : +62-262 234675

Hotel Tirta Alam I & II
Jl. Raya Cipanas, Phone : +62-262 241556

Penginapan Nugraha
Jl. Raya Cipanas No. 96, Phone : +62-262 231829

Penginapan Rahayu
Jl. Raya Cipanas, Phone : +62-262 238162

Penginapan Cipta Bela
Jl. Raya Cipanas, Phone : +62-262 —

Penginapan Pondok Melati
Jl. Raya Cipanas No. 133, Phone : +62-262 —

Local Education Center (LEC)
Jl. Guntur Sari, Phone : +62-262 540795

Penginapan Pusaka
Jl. Raya Cipanas, Phone : +62-262 237273

Banyu Kencana
Jl. raya Cipanas No. 349, Phone : +62-262 231332

Penginapan Citra Kencana
Jl. Raya Cipanas – Pananjung, Phone : +62-262 231300

Penginapan Pondok Asri
Jl. Raya Cipanas No. 184, Phone : +62-262 —

Penginapan Citra Kencana
Jl. Raya Cipanas Pananjung, Phone : +62-262 —

Penginapan Putra Pusaka
Jl.  Raya Cipanas No. 347, Phone : +62-262 —

Penginapan Putra Lugina
Jl. Raya Cipanas, Phone : +62-262 237765

Hotel Tirta Merta I
Jl Raya Cipanas No. 166, Phone : +62-262 231422

Hotel Tirta merta II
Jl Raya Cipanas No. 134, Phone : +62-262 231442

Hotel Augusta
Jl Raya Cipanas No. 108, Phone : +62-262 241556 

Penginapan Banyu Arta
Jl Raya Cipanas No. 51, Phone : +62-262 231517 

Penginapan Adji Saka
Jl Raya Cipanas No. 349, Phone : +62-262 540095 

Penginapan Purbasari
Jl Raya Cipanas No. 184, Phone : +62-262 237700

Bintang Redannte
Jl. Raya Samarang No. 42, Phone : +62-262 4704647 – 242678

Intinya kalau kamu gak keberatan nginap agak jauh dari Cipanas, silakan coba peruntungan kamu ke daerah Otista (paling dekat Cipanas), Samarang (rada ke sonoan lagi), dan yang paling jauh ke Garut Kota. Btw Hotel Bintang Redannte tuh rekomended, saya pernah nginap di sana.