Informasi Rute Kendaraan Umum dari Tangerang/Jakarta ke Garut

primajasa-garut-lebakbulus

Di artikel mengenai Informasi Wisata Garut, ada yang menanyakan rute kendaraan umum dari Tangerang menuju Garut. Informasi ini mungkin bermanfaat juga untuk Anda. Maka saya copas jawaban saya di sini.

Seperti yang bisa Anda baca di bawah, ada 3 alternatif kendaraan umum. Semoga bermaanfaat! :)

Rute A
1. Naik bis dari Tangerang ke terminal Grogol .
2. Di terminal Grogol ada bis jurusan Garut , tapi saya gak tau apa nama bisnya dan jadwal berangkatnya.
3. Setelah sampai Garut, minta turun di Tarogong, tepatnya di alun-alun Tarogong .
4. Setelah turun dari bis, nyebrang jalan, lalu nyegat angkutan kota jurusan Cipanas (angkot warna coklat susu, nomor 04).
5. Di Cipanas (ini pusat pemandian air panas Garut), tinggal pilih deh mau yang mana. Ada Sabda Alam, Danau Dariza, Kampung Sumber Alam, Tirtagangga , dll).

Rute B (recommended)
1. Naik bis dari Tangerang sampai halte busway Grogol yang pas depan Mal Ciputra.
2. Naik busway jurusan Grogol – terminal Lebak Bulus .
3. Di Lebak Bulus, naik bis Primajasa jurusan Garut. Usahakan sudah sampe terminal Lebak Bulus sebelum jam 9 malam, karena bis Primajasa paling malam tuh jam 9. Terakhir (tahun lalu) ongkos bisnya Rp 35 ribu, itu bisnya AC lho.
4. Setelah nyampe Garut, turun di Tarogong, nyebrang jalan, lalu naik angkot Cipanas 04 .

Rute C
1. Naik bis dari Tangerang sampai terminal Kampung Rambutan .
2. Pilih deh mau pake bis apa ke Garut. Banyak banget, mau AC atau non AC tersedia sampai tengah malam sekalipun.
3. Begitu nyampe Garut, sama juga, turun di Tarogong dan lanjutin dengan angkot Cipanas 04 .

Penciptaan Bumi dan Kelahiran Para Dewa

pencuri-dari-eddisBumi sendirian. Dia tidak memiliki teman. Lalu dia mengambil sepotong pusat tubuhnya dan menciptakan Matahari, dan jadilah Matahari dewa yang pertama. Tetapi suatu waktu Matahari meninggalkan Bumi. Matahari berjanji untuk selalu memberi Bumi cahaya di waktu siang, tapi saat malam tiba Bumi kembali sendirian. Lalu Bumi mengambil sepotong sisi tubuhnya dan menciptakan Bulan. Jadilah Bulan dewi yang pertama. Setelah beberapa saat, Bulan pun meninggalkan Bumi. Dia berjanji untuk memberi Bumi sinar dan menemaninya di malam hari. Tetapi janji Bulan tidak bisa dipegang. Dia hanya memberi Bumi sebagian saja dari sinarnya bahkan terkadang dia lupa sama sekali. Saat Bulan lupa, sama sekali tak ada sinar yang ia kirim, dan Bumi kesepian lagi.

Lalu Bumi mengembuskan napas ke angkasa, dan terciptalah Langit. Langit menyelimuti Bumi dan menjadi teman sejatinya. Langit berjanji untuk selalu bersama Bumi, dan Bumi bahagia mendengar janji itu. Dari Bumi dan Langit lahirlah anak-anak mereka yang pertama, yaitu pegunungan, dan Gunung Hephestia adalah anak yang tertua. Lalu mereka memiliki lebih banyak anak, yaitu samudra-samudra luas dan lautan sedang, dan anak-anak yang paling bungsu adalah sungai besar Sephercia dan Skander.

Suatu hari Langit ingin tahu bagaimana rupanya, lalu Bumi menciptakan seribu dewi dan menyebarkan mereka ke seluruh dunia untuk memegang cermin bagi Langit. Para dewi adalah danau-danau. Langit menatap dirinya di cermin. Dia berwarna biru dan putih dengan awan, dan terkadang hitam dikerlipi bintang-bintang, dan saat matahari terbenam, Langit benar-benar terlihat cantik. Langit menjadi sombong. Dia menatap bumi yang bulat dan tak berwarna, dan Langit merasa lebih hebat.

“Aku cukup menawan,” kata Langit kepada Bumi, “Tapi kau sangat membosankan. Satu-satunya yang cantik di dirimu hanyalah danau-danau itu.” Dan Langit menghabiskan seluruh waktunya menatap permukaan air dan tidak pernah berbicara lagi dengan Bumi. Lalu Bumi menyapukan debu dari pegunungan dan menciptakan salju dan menyapu debu dari lembah-lembah dan menciptakan tanah hitam, dan dari dalam tanah dia menebarkan benih-benih untuk hutan dan bunga dan menyelimuti dirinya dengan pohon-pohon hijau dan warna-warna cerah, dan mengatakan kepada Langit bahwa dirinya pun cantik.

Tetapi Langit hanya mau menatap danau, yang memantulkan kembali kegagahannya. Lalu danau-danau itu memberinya anak, yaitu sungai-sungai kecil dan jeram. Bumi cemburu dan membuat pepohonan tumbuh di seputar danau-danau, menyembunyikan mereka dari pandangan Langit.

Langit marah. Dia mengambil tanah hitam dari lembah-lembah Bumi dan salju dari pegunungannya, dan ia menyatukan tanah hitam dan salju dan meniupnya dengan kencang dan tersebarlah campuran itu ke seluruh dunia. Setiap butir debu yang ditiupkan itu kemudian tumbuh menjadi manusia, dan sebagian gelap seperti tanah lembah dan sebagian putih seperti salju. Jadi, walaupun kita berasal dari Bumi, kita harus berterima kasih kepada Langit, karena Langit-lah yang menciptakan manusia. Tetapi Langit tidak sabaran dan tidak melakukan pekerjaannya sebaik Bumi. Manusia terlahir sebagai makhluk yang kecil dan lemah dan tanpa berkah dari para dewa. Ketika Langit mengirim manusia untuk membabat hutan di sekitar danau, agar dia bisa melihatnya, manusia terlalu lemah untuk mencabuti pepohonan.

Bumi menatap manusia-manusia itu memanjat pepohonan di hutannya, lalu bertanya kepada Langit, “Kenapa kau menciptakan makhluk ini?”

Langit merasa malu, dan ia mengatakan, karena dia ingin melihat danau, dan Bumi malu dan mengatakan, dia ingin agar Langit hanya berbicara dengannya. Lalu Langit berjanji, dia hanya akan menatap danau sesekali saja, dan Bumi berjanji hanya akan menyembunyikan beberapa danau di balik pepohonan. Lalu mereka berdua kembali bahagia.

Tetapi Bumi memperhatikan manusia yang diciptakan Langit, dan kasihan kepada mereka. Manusia kedinginan dan kelaparan. Lalu Bumi memberi mereka api untuk menghangatkan tubuh, dan benih-benih tanaman untuk ditebar di tanah. Bumi menciptakan binatang untuk dimakan, tapi tak peduli berkah apapun yang Bumi berikan, manusia tidak pernah bersyukur. Manusia hanya memuja Langit yang telah menciptakan mereka. Bumi marah dan dia bergetar karena amarah, rumah-rumah manusia roboh, binatang ketakutan lalu lari, dan manusia sadar mereka telah membuat kesalahan besar. Sejak saat itu selalu ada sekelompok manusia yang memuja Bumi untuk segela yang telah dia berikan, dan sebagian manusia yang memuja Langit atas penciptaan yang telah ia lakukan.

*Dikutip dari buku The Thief: Sang Pencuri dari Eddis yang ditulis oleh Megan Whalen Turner*

Nostalgia Evita Peron

It won’t be easy, you’ll think it strange
When I try to explain how I feel
That I still need your love
After all that I’ve done

You won’t believe me
All you will see is a girl you once knew
Although she’s dressed up to the nines
At sixes and sevens with you

I had to let it happen, I had to change
Couldn’t stay all my life down at hill
Looking out of the window
Staying out of the sun

So I chose freedom
Running around trying everything new
But nothing impressed me at all
I never expected it too

Don’t cry for me Argentina
The truth is, I never left you
All through my wild days, my mad existence
I kept my promise
Don’t keep your distance

And as for fortune, and as for fame
I never invited them in
Though it seemed to the world
They were all I desire

They are illusions
They’re not the solutions they promised to be
The answer was here all the time
I love you, and hope you love me

Don’t cry for me Argentina
The truth is, I never left you
All through my wild days, my mad existence
I kept my promise
Don’t keep your distance

Have I said to much?
There’s nothing more I can think of to say to you
But all you have to do is look at me to know
That every word is true.

Tips Aman Menginap di Kampung Sumber Alam Garut

Barusan gak sengaja baca kasus-kasus tidak menyenangkan tentang Kampung Sumber Alam. Lebih dari 1 kali ada tamu yang kehilangan barang berharga di kamarnya, gak tanggung-tanggung pula, kamera DSLR yang harganya puluhan juta.

Waduh! Padahal itu resort favorit saya *meskipun belum pernah nginap di sana, hehe*.

Begitu baca kronologisnya, saya langsung teringat betapa terbukanya akses masuk ke lingkungan dalam Kampung Sumber Alam ini. Saya berkali-kali berkunjung ke sana walaupun bukan tamu. Terus terang di sana saya suka keliling-keliling sampai ke pelosok-pelosok pondokan mereka. Pondok Kelapa, Suite Arileu, Bungalow, Junior Suite, dengan gampang saya datangi bahkan sampai di depan terasnya persis. Hanya Babakan Siluhur saja yang tertutup.

Biasanya sih saya sambil foto-foto. Dan memang gak ada yang mengawasi ataupun melarang saya. Bagi saya tentu keleluasaan itu menyenangkan, tapi di sisi lain juga menggoda bagi mereka yang berniat buruk.

Kalau dibandingkan dengan tempat menginap yang berujud hotel, di mana selalu terdapat 4 dinding di sekitar pengunjung (dan di dinding bisa dipasang CCTV), pintu-pintu, serta lift yang secara psikologis membuat orang segan kelayapan, resort model terbuka seperti Kampung Sumber Alam memang akan lebih sulit diawasi.

Jadi, apakah sebaiknya menghindari nginap di Kampung Sumber Alam? Ah ya jangan. Sayang lho kalau gak nyobain, apalagi kalau emang udah niat. Soalnya suasananya asyik banget, asri dan tenang. Hanya saja harus lebih hati-hati. Kalau bisa, jangan bawa barang-barang berharga yang ngerepotin. Jadi kalau perlu keluar kamar, tinggal kita bawa tuh “harta” kita. Dompet, kamera, uang, telepon seluler, iPhone galaxy tab galaxy notes, bawa deh tuh semua di dalam tas tiap kali mau ninggalin kamar.

Atau, tanyakan apakah ada deposit box tempat kita bisa nitipin tuh barang-barang. Amannya sih titip di deposit box kantornya ya. Kalau gak ada, bawa ke mobil. Eh tapi ini gak aman juga ya, klo mobil ditinggal di parkiran bisa juga kena bobol. Hmmm… kalau gitu yang paling aman, tinggalin satu orang -entah di kamar atau di mobil- buat korban jagain barang-barang kita. *grin* :D