Bumi sendirian. Dia tidak memiliki teman. Lalu dia mengambil sepotong pusat tubuhnya dan menciptakan Matahari, dan jadilah Matahari dewa yang pertama. Tetapi suatu waktu Matahari meninggalkan Bumi. Matahari berjanji untuk selalu memberi Bumi cahaya di waktu siang, tapi saat malam tiba Bumi kembali sendirian. Lalu Bumi mengambil sepotong sisi tubuhnya dan menciptakan Bulan. Jadilah Bulan dewi yang pertama. Setelah beberapa saat, Bulan pun meninggalkan Bumi. Dia berjanji untuk memberi Bumi sinar dan menemaninya di malam hari. Tetapi janji Bulan tidak bisa dipegang. Dia hanya memberi Bumi sebagian saja dari sinarnya bahkan terkadang dia lupa sama sekali. Saat Bulan lupa, sama sekali tak ada sinar yang ia kirim, dan Bumi kesepian lagi.
Lalu Bumi mengembuskan napas ke angkasa, dan terciptalah Langit. Langit menyelimuti Bumi dan menjadi teman sejatinya. Langit berjanji untuk selalu bersama Bumi, dan Bumi bahagia mendengar janji itu. Dari Bumi dan Langit lahirlah anak-anak mereka yang pertama, yaitu pegunungan, dan Gunung Hephestia adalah anak yang tertua. Lalu mereka memiliki lebih banyak anak, yaitu samudra-samudra luas dan lautan sedang, dan anak-anak yang paling bungsu adalah sungai besar Sephercia dan Skander.
Suatu hari Langit ingin tahu bagaimana rupanya, lalu Bumi menciptakan seribu dewi dan menyebarkan mereka ke seluruh dunia untuk memegang cermin bagi Langit. Para dewi adalah danau-danau. Langit menatap dirinya di cermin. Dia berwarna biru dan putih dengan awan, dan terkadang hitam dikerlipi bintang-bintang, dan saat matahari terbenam, Langit benar-benar terlihat cantik. Langit menjadi sombong. Dia menatap bumi yang bulat dan tak berwarna, dan Langit merasa lebih hebat.
“Aku cukup menawan,” kata Langit kepada Bumi, “Tapi kau sangat membosankan. Satu-satunya yang cantik di dirimu hanyalah danau-danau itu.” Dan Langit menghabiskan seluruh waktunya menatap permukaan air dan tidak pernah berbicara lagi dengan Bumi. Lalu Bumi menyapukan debu dari pegunungan dan menciptakan salju dan menyapu debu dari lembah-lembah dan menciptakan tanah hitam, dan dari dalam tanah dia menebarkan benih-benih untuk hutan dan bunga dan menyelimuti dirinya dengan pohon-pohon hijau dan warna-warna cerah, dan mengatakan kepada Langit bahwa dirinya pun cantik.
Tetapi Langit hanya mau menatap danau, yang memantulkan kembali kegagahannya. Lalu danau-danau itu memberinya anak, yaitu sungai-sungai kecil dan jeram. Bumi cemburu dan membuat pepohonan tumbuh di seputar danau-danau, menyembunyikan mereka dari pandangan Langit.
Langit marah. Dia mengambil tanah hitam dari lembah-lembah Bumi dan salju dari pegunungannya, dan ia menyatukan tanah hitam dan salju dan meniupnya dengan kencang dan tersebarlah campuran itu ke seluruh dunia. Setiap butir debu yang ditiupkan itu kemudian tumbuh menjadi manusia, dan sebagian gelap seperti tanah lembah dan sebagian putih seperti salju. Jadi, walaupun kita berasal dari Bumi, kita harus berterima kasih kepada Langit, karena Langit-lah yang menciptakan manusia. Tetapi Langit tidak sabaran dan tidak melakukan pekerjaannya sebaik Bumi. Manusia terlahir sebagai makhluk yang kecil dan lemah dan tanpa berkah dari para dewa. Ketika Langit mengirim manusia untuk membabat hutan di sekitar danau, agar dia bisa melihatnya, manusia terlalu lemah untuk mencabuti pepohonan.
Bumi menatap manusia-manusia itu memanjat pepohonan di hutannya, lalu bertanya kepada Langit, “Kenapa kau menciptakan makhluk ini?”
Langit merasa malu, dan ia mengatakan, karena dia ingin melihat danau, dan Bumi malu dan mengatakan, dia ingin agar Langit hanya berbicara dengannya. Lalu Langit berjanji, dia hanya akan menatap danau sesekali saja, dan Bumi berjanji hanya akan menyembunyikan beberapa danau di balik pepohonan. Lalu mereka berdua kembali bahagia.
Tetapi Bumi memperhatikan manusia yang diciptakan Langit, dan kasihan kepada mereka. Manusia kedinginan dan kelaparan. Lalu Bumi memberi mereka api untuk menghangatkan tubuh, dan benih-benih tanaman untuk ditebar di tanah. Bumi menciptakan binatang untuk dimakan, tapi tak peduli berkah apapun yang Bumi berikan, manusia tidak pernah bersyukur. Manusia hanya memuja Langit yang telah menciptakan mereka. Bumi marah dan dia bergetar karena amarah, rumah-rumah manusia roboh, binatang ketakutan lalu lari, dan manusia sadar mereka telah membuat kesalahan besar. Sejak saat itu selalu ada sekelompok manusia yang memuja Bumi untuk segela yang telah dia berikan, dan sebagian manusia yang memuja Langit atas penciptaan yang telah ia lakukan.
*Dikutip dari buku The Thief: Sang Pencuri dari Eddis yang ditulis oleh Megan Whalen Turner*