For My Eyes Only

 

Untuk ngecek login session yang pernah/masih aktif:

#last

Untuk create user:

#sudo adduser [nama_user]

Untuk ngapus user:

#sudo userdel [nama_user]

Untuk ganti password:

#sudo passwd [nama_user]

Untuk ganti primary group dari existing user:

#sudo usermod -g [nama_group] [nama_user]

Untuk add existing user to secondary group:

#sudo usermod -a -G [nama_group] [nama_user]

Untuk create SSH keys:

#ssh-keygen -b [1024 atau 4096 atau bit lainnya] -C [komentar]

*new update*

Untuk install Java di Ubuntu:

http://www.cyberciti.biz/faq/howto-ubuntu-linux-install-configure-jdk-jre/

Untuk install ANT di Ubuntu:

http://ubuntuforums.org/showthread.php?t=625579

Installing Ant should really include both ant and ant-optional:

 

#sudo apt-get install ant ant-optional

Untuk install SVN:

 

#sudo apt-get install subversion

#sudo apt-get install libapache2-svn

(http://www.howtoforge.com/debian_subversion_websvn)

Untuk install Tomcat 6:

http://www.howtogeek.com/howto/linux/installing-tomcat-6-on-ubuntu/

Untuk install Postgres:

#sudo apt-get install postgresql-8.2

Understanding hardlinks and softlinks:

http://linuxgazette.net/105/pitcher.html

Make your files immutable:

http://linuxhelp.blogspot.com/2005/11/make-your-files-immutable-which-even.html

Resizing Linux Partition Using GPARTED

Waktu saya beli harddisk baru 160GB beberapa waktu yl, tujuan utamanya adalah untuk menampung file-file foto saya yang sudah gak muat lagi di hdd 80GB yang lama. Tapi gak lama setelah itu, saya kepincut si Hardy sehingga saya install-lah dia di hdd 160GB tsb. Tadinya cuma mau nyoba-nyoba, trus karena option yang paling mudah adalah “use entire harddisk”, tanpa pikir panjang saya pilih itu.

Ternyata sekarang setelah kedua OS jalan dengan mulus di komputer saya, saya merasa sayang untuk uninstall si Hardy hanya demi kembali ke tujuan semula yaitu menyediakan tempat untuk foto-foto saya.

Jadi gimana solusinya? Ada 2 macam:

a. Cari cara supaya partisi ext3 (Linux) bisa dikenali oleh WinXP. Googling.. googling.. googling, ketemu tools Ext2IFS dan Ext2Fsd.

- atau -

b. Rezize partisi ext3 (Linux) supaya saya bisa membuat partisi baru (NTFS) untuk dipake sebagai folder foto di WinXP saya. Googling.. googling.. googling, ketemulah tools GParted. Tools ini mirip sekali dengan Partition Magic yang sudah saya kenal.

Continue reading

DNS Vulnerability Issue

Sebagai member DNSStuff, sekitar seminggu yang lalu saya menerima SP -alias Surat Peringatan- dari mereka. Isinya adalah peringatan supaya saya melakukan pengecekan DNS Vulnerability.

Hmm, ternyata memang ada issue mengenai ini. Artikel yang relevan bisa dibaca di sini, di sana, di situ, atau di sono. Atau googling aja deh dg kata kunci “dns vulnerability”.

Sebagai pengguna Ubuntu Feisty, saya pun bergegas mencari konfirmasi dari tim securitas Ubuntu. Ternyata solusinya gampang banget, yaitu tinggal upgrade paket libdns22 (salah satu lib yg dipake oleh Bind) ke versi 1:9.3.4-2ubuntu2.3. Tapi sebelum melakukan itu, saya cek dulu lib yg running di server saya versi berapa.

# aptitude show libdns22

Package: libdns22
State: installed
Automatically installed: no
Version: 1:9.3.4-2ubuntu2.1
Priority: standard

Hmm, ya wis klo gitu upgrade ajah.

# sudo apt-get update

# sudo apt-get install libdns22

Ketika hampir selesai, dia akan menanyakan apakah file konfigurasi yang ada di local computer mau ditimpa dg file bawaan dari paketnya atau dibiarkan aja. Karena saya mau mempertahankan konfigurasi saya, saya pilih N (kependekan dari “Nggak mau” :P ).

Upgrade diakhiri dengan proses restart service Bind.

Cek lagi untuk meyakinkan ah… *aih, ini ciri khas sisi pleghmatis saya, cape deh*

# aptitude show libdns22

Package: libdns22
State: installed
Automatically installed: no
Version: 1:9.3.4-2ubuntu2.3
Priority: standard

Habis itu, saya cek status DNS saya dengan DNSStuff. *Asyik lho memanfaatkan layanan mereka. Biarpun biaya per tahunnya gak murah-murah amat, tapi worth kok.* Caranya, buka site ini di komputer yang DNS-nya sudah diarahkan ke DNSServer yang tadi di-upgrade:

http://member.dnsstuff.com/tools/vu800113.php

Tada! This DNS server is NOT vulnerable! :D

dns-check

Linux? Harus Hapal

Hmm.. bekerja dengan Linux itu intinya adalah menghapal perintah. Apalagi kalau kerjanya remote dengan server, bukan desktop.

Memang sih ada Webmin. Tapi hampir semua tutorial yang beredar di internet atau buku memberikan command line-nya. Selagi mengikuti step tutorial tsb satu persatu, kadang ada aja kemacetan yang harus ditanggulangi dulu. Lah, mosok untuk itu musti pergi ke komputer lain untuk buka webmin dulu? Gak keren kan. ;) Selain itu juga gak praktis gitu lho. Wong saat itu sedang ada di dalam sistem ybs kok.

Jadi, saya mengambil kesimpulan, bedanya admin yang jago dengan admin pemula adalah tingkat daya hapalnya. :D Yang jago itu gak perlu ngintip buku panduan dulu, gak perlu googling dulu, gak perlu turun ke lantai 1 untuk ngambil majalah Info Linux dulu. Ada macet apapun, jari-jemari sang admin jagoan terus aja menari-nari di atas keyboard, memberikan serangkaian perintah yang sudah dihapalnya luar kepala.

Alhasil, pekerjaan admin jagoan bisa “diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja” *hehe, kayak proklamasi aja*, sementara yang pemula butuh waktu berjam-jam atau bahkan berhari-hari.

Hhhh.. padahal saya ini paling males menghapal. :D

Tapi gpp ding , itung-itung sekolah lagi. Jadi.. mari menghapal, yuk yuk! ;)