Tips Aman Menginap di Kampung Sumber Alam Garut

Barusan gak sengaja baca kasus-kasus tidak menyenangkan tentang Kampung Sumber Alam. Lebih dari 1 kali ada tamu yang kehilangan barang berharga di kamarnya, gak tanggung-tanggung pula, kamera DSLR yang harganya puluhan juta.

Waduh! Padahal itu resort favorit saya *meskipun belum pernah nginap di sana, hehe*.

Begitu baca kronologisnya, saya langsung teringat betapa terbukanya akses masuk ke lingkungan dalam Kampung Sumber Alam ini. Saya berkali-kali berkunjung ke sana walaupun bukan tamu. Terus terang di sana saya suka keliling-keliling sampai ke pelosok-pelosok pondokan mereka. Pondok Kelapa, Suite Arileu, Bungalow, Junior Suite, dengan gampang saya datangi bahkan sampai di depan terasnya persis. Hanya Babakan Siluhur saja yang tertutup.

Biasanya sih saya sambil foto-foto. Dan memang gak ada yang mengawasi ataupun melarang saya. Bagi saya tentu keleluasaan itu menyenangkan, tapi di sisi lain juga menggoda bagi mereka yang berniat buruk.

Kalau dibandingkan dengan tempat menginap yang berujud hotel, di mana selalu terdapat 4 dinding di sekitar pengunjung (dan di dinding bisa dipasang CCTV), pintu-pintu, serta lift yang secara psikologis membuat orang segan kelayapan, resort model terbuka seperti Kampung Sumber Alam memang akan lebih sulit diawasi.

Jadi, apakah sebaiknya menghindari nginap di Kampung Sumber Alam? Ah ya jangan. Sayang lho kalau gak nyobain, apalagi kalau emang udah niat. Soalnya suasananya asyik banget, asri dan tenang. Hanya saja harus lebih hati-hati. Kalau bisa, jangan bawa barang-barang berharga yang ngerepotin. Jadi kalau perlu keluar kamar, tinggal kita bawa tuh “harta” kita. Dompet, kamera, uang, telepon seluler, iPhone galaxy tab galaxy notes, bawa deh tuh semua di dalam tas tiap kali mau ninggalin kamar.

Atau, tanyakan apakah ada deposit box tempat kita bisa nitipin tuh barang-barang. Amannya sih titip di deposit box kantornya ya. Kalau gak ada, bawa ke mobil. Eh tapi ini gak aman juga ya, klo mobil ditinggal di parkiran bisa juga kena bobol. Hmmm… kalau gitu yang paling aman, tinggalin satu orang -entah di kamar atau di mobil- buat korban jagain barang-barang kita. *grin* :D

Tenun Ikat Flores

PameranIndustriKreatif150212

Satu lagi yang menarik dari pameran kain tradisional nusantara di JCC kemarin, yaitu Tenun Ikat Flores.

Begitu melewati pintu masuk, saya langsung tertarik mengunjungi stand Tenun Ikat Flores. Di sana ada seorang ibu cantik dan menarik, mengenakan dress sederhana tapi anggun yang terbuat dari kain tenun ikat Flores. Rupanya beliau adalah Ibu Zeby Febrina, seorang penggiat komodo.

Ibu Zeby sangat pintar memikat pengunjung dengan kisah yang dia tuturkan. Tentu saja seputar kain tenun ikat dan unsur-unsur budaya di sekitarnya.

Tenun ikat dibuat dengan cara “menggambar” pola-pola di atas helai-helai benang. Hanya saja bukan menggambar dengan pensil ataupun kuas, melainkan dengan cara mengikatkan berberkas-berkas akar pohon pada sejumlah benang yang terentang, sedemikian rupa berderet-deret sehingga menghasilkan suatu pola. Setelah semua pola selesai barulah diberi pewarna, lalu melepaskan ikatan-ikatan tadi, kemudian barulah benang-benang tersebut ditenun. Rumit. Maka pantaslah kalau para pembuat tenun ikat ini disebut sebagai maestro, dan hasil karya mereka disetarakan dengan sebuah karya seni, bukan sekedar kerajinan tangan.

Lebih jauh tentang tenun ikat Flores bisa dibaca di sini.

Di Flores, setiap perempuan yang hendak menikah harus membuat sendiri kain tenun untuk dikenakan pada pernikahan. Terkait dengan adat pernikahan, Bu Zeby juga bercerita tentang sebuah penganan tradisional yang terbuat dari tepung (saya lupa tepung apa). Penganan ini dibuat oleh orang-orang tua, sang ibu atau sang nenek. Apabila pada saat pembuatan penganan ini berkali-kali pecah, alias gagal, itu pertanda buruk. Menurut kepercayaan mereka, penganan yang pecah artinya kedua calon pengantin ini sudah tidak suci lagi, alias sudah pernah berhubungan badan sebelum menikah. Believe it or not..

Ada juga legenda tentang Putri Naga Komodo, bagaimana menurut kepercayaan setempat, komodo adalah saudara kandung. Jadi jaman dulu ada seorang putri yang tinggal di pulau ini. Putri ini menikah dengan Majo (mungkin salah satu penduduk) dan melahirkan anak kembar, yaitu seorang bayi laki-laki berujud manusia dan seorang bayi perempuan berujud komodo.

Orang Flores menyebut komodo dengan nama Ora. Mereka percaya komodo adalah nenek moyang mereka, sehingga seperti sapi di Bali, komodo di Flores dibiarkan berkeliaran bebas di sekitar mereka.

Kembali ke topik semula, adalah seorang Alfonsa Horeng yang berjasa melestarikan tenun ikat Flores. Beliau inilah sosok perempuan inspiratif dari Indonesia Timur yang bersuara lantang memperjuangkan tenun ikat, benda seni warisan leluhurnya yang tak menarik perhatian generasi muda. Keinginan perempuan kelahiran 1 Agustus 1974 ini tak terbendung sejak 2002 untuk memelajari tenun ikat. Kemudian mendokumentasikan proses pembuatan tenun ikat khas Flores.

Atas upayanya, Alfonsa tak hanya berhasil menggandeng kembali generasi muda Flores untuk kembali mencintai tenun ikat bernilai adat. Anak sulung dari dua bersaudara ini juga kerap melakukan perjalanan ke luar desanya, menghadiri undangan berbagai kegiatan di Jakarta hingga terbang ke Amerika dan Eropa, bicara di forum dunia mengenai tenun ikat dari Flores.

Salah satu video promosi Tenun Ikat Flores bisa disaksikan di YouTube ini.

Tenun-Ikat1

Kain Sasirangan Banjar

Kain Sasirangan

Sebagai oleh-oleh dari pameran kain tradisional nusantara di JCC kemarin, saya akan membagikan cerita tentang Kain Sasirangan Banjar, Kalimantan Selatan.

Sasirangan adalah kain adat suku Banjar. Cara membuatnya mirip seperti batik. Bedanya, kalau batik menggunakan lilin malam untuk menutupi polanya, sasirangan menggunakan teknik tusuk jelujur dan ikat (bisa diikat tali rafia atau karet gelang) untuk menutupi si pola. Setelah pola tertutupi, kain dicelupkan ke pewarna. Bila menginginkan lebih dari 1 warna, selain dicelup bisa juga zat warna tersebut digoreskan menggunakan kuas, atau disebut men-colet . *sounds familiar*

Ada juga yang bilang, teknik sasirangan ini mirip sekali dengan teknik jumputan Yogyakarta. Well, mungkin saja.

Jaman dulu, kain sasirangan digunakan untuk menyembuhkan orang sakit. Para pria memakainya sebagai ikat kepala (“laung”) atau ikat pinggang, sedangkan kaum perempuan memakainya sebagai selendang dan kemben. Kadang mereka juga menggunakannya sebagai ayunan untuk menyembuhkan anak kecil. Motif dan warna kain sasirangan yang dipakai disesuaikan dengan sakitnya. Misalnya warna merah dipercaya bisa menyembuhkan sakit kepala, warna ungu untuk menyembuhkan sakit perut, warna kuning untuk sakit liver, motif naga balimbur untuk sakit kepala, dan motif kumbang bernaung di bawah pohon sebagai penyembuh penyakit kurang ingatan.

Jaman sekarang kain Sasirangan ini sudah menyebar ke berbagai daerah, penggunaannya pun sudah meluas sebagai pakaian, dan turut meramaikan dunia mode nasional maupun internasional.

Sasirangan” berasal dari kata “menyirang” yang artinya menjelujur.

Motif-motif Sasirangan di antaranya:

motif-sasirangan

Harganya berapaan? Yah, seperti halnya batik, harganya beragam, mulai puluhan ribu sampai ratusan ribu. Entah apa ada juga yang harganya jutaan?

Senang sekali mendapatkan satu lagi warisan budaya tradisional Indonesia untuk ditambahkan ke koleksi pribadi saya. :)

Sasirangan

sasirangan2

sasirangan-baju

Primis, Santyu, Prima

Bahan kain katun atau dipamekasan disebut “labun” yg biasanya digunakan untuk bahan batik adalah kain katun primis, santyu, prima, samforis dan sada’. Apa bedanya???

Katun Primis : Serat benangnya lebih rapat, kainnya lebih tebal dan halus, diantara yang lain kain ini paling baik kualitasnya. Katun primis sendiri ada beberapa grade primis biasa dan primis super, primis super kualitasnya lebih bagus dan lebih haluss biasanya merk Kereta Kencana dan Bendera. Katun primis sebagian besar digunakan untuk membuat batik dengan motif-motif klasik misal moti sekarjagad, bulu ayam, cincin otter dll.Ciri khas katun primis adalah lebar kainnya yang lebih pendek dibandingkan yang lain yaitu berkisar 100cm-103cm.

Katun Santyu : Katun santyu memiliki kualitas sedang/menengah karena harganya yang lebih terjangkau banyak batik yang dibuat dengan kain santyu. Santyu ada dua, santyu super B dan santyu super A . Santyu super A lebih baik kualitasnya dari pada yang super B. Lebar kain santyu biasanya lebih dari 110cm kadang ada yang 115cm tergantung merk dan proses ketelannya.

Katun Samforis : Katun samforis belum lama muncul dan masih sedikit yang menggunakan bahan kain ini karena harganya yang lumayan mahal dibandingkan santyu. Kainnya tebal dan halus.

Katun Prima : Katun prima biasanya digunakan untuk batik dengan motif-motif “pekandangan” tapi motif lain juga ada kok.

Katun Sada’ : Kualitasnya paling bawah, bahannya agak kasar dan tipis, kalo dibuat baju terasa panas.

Penting untuk diingat bahwa warna yang muncul pada setiap bahan sering tidak sama bahkan sama sekali berbeda meskipun sudah menggunakan bahan pewarna yang sama. Membuat batik tidak semudah yang dibayangkan, butuh pengalaman dan proses yang panjang untuk menjadi selembar kain batik yang siap dipajang ditoko. Batik mengajarkan kesabaran.

 

*Sumber: http://www.facebook.com/notes/batik-madura-raddina/primis-santyu-primabedanya-apa-sih/235137563173829

Rumah dan Mobil Keluarga Ideal Terbaik

home

Beli mobil atau beli rumah? Mana yang lebih penting bagi pasangan yang baru (akan) menikah?

Saya pribadi penganut paham idealisme. Sejak kecil saya yakin bahwa rumah itu nomor satu. Rasanya gimana gitu kalau berani menikah tapi belum sanggup punya rumah.

Tapi ternyata di Jakarta ini gak mudah membeli rumah ideal. Definisi ideal bagi saya adalah jarak harus dekat dengan tempat beraktivitas (baca: kerja), ukurannya cukup lega serta ada halaman. Sayangnya, ini jadi dilema bagi saya yang ‘kebetulan’ tinggal di Jakarta. Semua juga tau, rumah-rumah yang berlokasi di Jakarta (tanpa coret) dengan ukuran di atas 100 meter, harganya jauh melambung tinggi. Jadi mau tidak mau, pilihan harus dibuat. Apakah mengesampingkan faktor luas agar dapat rumah yang dekat dengan kantor? Atau pilih rumah yang luas, tapi harus rela menyandang alamat Jakarta coret dan bersiap-siap tua di jalan.

Apakah masalah selesai setelah pilihan dibuat? Well, jangan lupa ini Jakarta. Kata apa yang diasosiasikan dengan Jakarta? Satu, banjir. Dua, macet. Gara-gara si Komo lewat ini, saya ogah naik kendaraan umum. Ciee.. borju banget ya :P . Sebetulnya gak gitu. Saya males naik kendaraan umum karena banyak berhentinya, banyak ngetemnya, sedangkan saya gak betah berada di dalam kendaraan yang jalannya tersendat-sendat. Bikin kepala pusing dan perut mual!

Jadi inilah konsekuensi lanjutannya. Kalau mau tinggal di Jakarta coret, sebaiknya Anda punya kendaraan pribadi. Entah itu mobil pribadi, motor pribadi, sepeda pribadi, bahkan bajaj atau helikopter pribadi. :P Pokoknya sesuatu yang bisa kamu kendarai sesuka hati: lewat mana, kapan, dan sekencang/selambat apa. Bagi para lajang, motor atau sepeda bisa jadi pilihan. Tapi bagi keluarga, tentu lebih murah kalau membeli satu mobil untuk dipakai bersama daripada satu motor/sepeda untuk setiap anggota keluarga.

Walaupun keputusan memiliki mobil adalah keputusan yang sama sekali tidak mendukung go green, tapi mau bagaimana lagi? Jakarta memang belum sanggup memberi kenyamanan bagi pengguna kendaraan umum.

Ngomong-ngomong tentang mobil keluarga, seorang teman merekomendasikan mobil keluarga ideal terbaik. Duh, kriteria ideal itu apa saja sih? Suer deh, saya gak ngerti apa itu CC, apa bedanya manual dan matic, dll. Eh tapi at least saya ngerti satu pertanyaan yang musti diajukan waktu beli mobil: “Konsumsi BBM-nya berapa banding berapa?” Hihihi, waktu baru dikasih tau tentang faktor ini, saya berasa cerdas banget waktu iseng-iseng mempraktekkan pertanyaan tsb di sebuah pameran. Si Mas penjaganya lalu dengan semangat menjelaskan macam-macam hal teknis. Dia gak tau aja bahwa itu satu-satunya pertanyaan yang saya ngerti. :P

Anyway, rumah dan mobil hanyalah sarana. Yang lebih utama adalah penghuninya, yaitu keluarga kita. Keluarga yang kita cintailah yang membuat kita menyebut sebuah bangunan sebagai RUMAH. It’s not only a house, it’s my home. :)