Primis, Santyu, Prima

Bahan kain katun atau dipamekasan disebut “labun” yg biasanya digunakan untuk bahan batik adalah kain katun primis, santyu, prima, samforis dan sada’. Apa bedanya???

Katun Primis : Serat benangnya lebih rapat, kainnya lebih tebal dan halus, diantara yang lain kain ini paling baik kualitasnya. Katun primis sendiri ada beberapa grade primis biasa dan primis super, primis super kualitasnya lebih bagus dan lebih haluss biasanya merk Kereta Kencana dan Bendera. Katun primis sebagian besar digunakan untuk membuat batik dengan motif-motif klasik misal moti sekarjagad, bulu ayam, cincin otter dll.Ciri khas katun primis adalah lebar kainnya yang lebih pendek dibandingkan yang lain yaitu berkisar 100cm-103cm.

Katun Santyu : Katun santyu memiliki kualitas sedang/menengah karena harganya yang lebih terjangkau banyak batik yang dibuat dengan kain santyu. Santyu ada dua, santyu super B dan santyu super A . Santyu super A lebih baik kualitasnya dari pada yang super B. Lebar kain santyu biasanya lebih dari 110cm kadang ada yang 115cm tergantung merk dan proses ketelannya.

Katun Samforis : Katun samforis belum lama muncul dan masih sedikit yang menggunakan bahan kain ini karena harganya yang lumayan mahal dibandingkan santyu. Kainnya tebal dan halus.

Katun Prima : Katun prima biasanya digunakan untuk batik dengan motif-motif “pekandangan” tapi motif lain juga ada kok.

Katun Sada’ : Kualitasnya paling bawah, bahannya agak kasar dan tipis, kalo dibuat baju terasa panas.

Penting untuk diingat bahwa warna yang muncul pada setiap bahan sering tidak sama bahkan sama sekali berbeda meskipun sudah menggunakan bahan pewarna yang sama. Membuat batik tidak semudah yang dibayangkan, butuh pengalaman dan proses yang panjang untuk menjadi selembar kain batik yang siap dipajang ditoko. Batik mengajarkan kesabaran.

 

*Sumber: http://www.facebook.com/notes/batik-madura-raddina/primis-santyu-primabedanya-apa-sih/235137563173829

Rumah dan Mobil Keluarga Ideal Terbaik

home

Beli mobil atau beli rumah? Mana yang lebih penting bagi pasangan yang baru (akan) menikah?

Saya pribadi penganut paham idealisme. Sejak kecil saya yakin bahwa rumah itu nomor satu. Rasanya gimana gitu kalau berani menikah tapi belum sanggup punya rumah.

Tapi ternyata di Jakarta ini gak mudah membeli rumah ideal. Definisi ideal bagi saya adalah jarak harus dekat dengan tempat beraktivitas (baca: kerja), ukurannya cukup lega serta ada halaman. Sayangnya, ini jadi dilema bagi saya yang ‘kebetulan’ tinggal di Jakarta. Semua juga tau, rumah-rumah yang berlokasi di Jakarta (tanpa coret) dengan ukuran di atas 100 meter, harganya jauh melambung tinggi. Jadi mau tidak mau, pilihan harus dibuat. Apakah mengesampingkan faktor luas agar dapat rumah yang dekat dengan kantor? Atau pilih rumah yang luas, tapi harus rela menyandang alamat Jakarta coret dan bersiap-siap tua di jalan.

Apakah masalah selesai setelah pilihan dibuat? Well, jangan lupa ini Jakarta. Kata apa yang diasosiasikan dengan Jakarta? Satu, banjir. Dua, macet. Gara-gara si Komo lewat ini, saya ogah naik kendaraan umum. Ciee.. borju banget ya :P . Sebetulnya gak gitu. Saya males naik kendaraan umum karena banyak berhentinya, banyak ngetemnya, sedangkan saya gak betah berada di dalam kendaraan yang jalannya tersendat-sendat. Bikin kepala pusing dan perut mual!

Jadi inilah konsekuensi lanjutannya. Kalau mau tinggal di Jakarta coret, sebaiknya Anda punya kendaraan pribadi. Entah itu mobil pribadi, motor pribadi, sepeda pribadi, bahkan bajaj atau helikopter pribadi. :P Pokoknya sesuatu yang bisa kamu kendarai sesuka hati: lewat mana, kapan, dan sekencang/selambat apa. Bagi para lajang, motor atau sepeda bisa jadi pilihan. Tapi bagi keluarga, tentu lebih murah kalau membeli satu mobil untuk dipakai bersama daripada satu motor/sepeda untuk setiap anggota keluarga.

Walaupun keputusan memiliki mobil adalah keputusan yang sama sekali tidak mendukung go green, tapi mau bagaimana lagi? Jakarta memang belum sanggup memberi kenyamanan bagi pengguna kendaraan umum.

Ngomong-ngomong tentang mobil keluarga, seorang teman merekomendasikan mobil keluarga ideal terbaik. Duh, kriteria ideal itu apa saja sih? Suer deh, saya gak ngerti apa itu CC, apa bedanya manual dan matic, dll. Eh tapi at least saya ngerti satu pertanyaan yang musti diajukan waktu beli mobil: “Konsumsi BBM-nya berapa banding berapa?” Hihihi, waktu baru dikasih tau tentang faktor ini, saya berasa cerdas banget waktu iseng-iseng mempraktekkan pertanyaan tsb di sebuah pameran. Si Mas penjaganya lalu dengan semangat menjelaskan macam-macam hal teknis. Dia gak tau aja bahwa itu satu-satunya pertanyaan yang saya ngerti. :P

Anyway, rumah dan mobil hanyalah sarana. Yang lebih utama adalah penghuninya, yaitu keluarga kita. Keluarga yang kita cintailah yang membuat kita menyebut sebuah bangunan sebagai RUMAH. It’s not only a house, it’s my home. :)

Rumus Menaikkan Profit Perusahaan

UUD. Pernah dengar? Bukan Undang-Undang Dasar, melainkan “ujung-ujungnya duit”. Maksudnya apa ya? Maksudnya, tujuan utama dari bisnis apapun, ya UUD itu, atau bahasa ekonominya: Profit. Itu semua juga tau. Tapi tau belum tentu bisa (memperolehnya). Jadi pertanyaannya, bagaimana cara mendapatkan atau menaikkan profit?

Kemarin habis training Balanced Score Card. Baru perkenalan sih, masih gak mudeng bagaimana implementasinya. Padahal pertemuan berikutnya masih sebulan lagi atau bahkan lebih. Jadi ya berusaha cari tau sendiri dulu dengan cara baca sana-sini.

Gagasan utamanya sih cukup clear. BSC ini adalah sebuah alat ajaib yang bisa membantu kita mencapai tujuan di atas tadi, yaitu profit. Tapi kalau perusahaan/bisnis ini ingin bertahan lama (sustain) dan berkembang (growth), gak cukup hanya fokus di profit (finansial). Harus seimbang dengan aspek (istilahnya “perspektif”) non finansial. Aspek lain itu apa? Mereka adalah: aspek pelanggan, aspek proses bisnis internal, serta aspek pertumbuhan dan pembelajaran para pegawainya.

Selain seimbang, dalam BSC juga ada hubungan sebab-akibat.

Kalau ditanya, antara pegawai yang loyal dengan company revenue yang baik, mana yang duluan datang? Apakah perusahaan harus bagus dulu revenuenya (sehingga sanggup memberikan kompensasi dan lingkungan kerja yang memuaskan) agar pegawai betah/loyal? Ataukah perusahaan harus punya pegawai yang loyal dulu agar bisnis tersebut bisa berjalan dengan lancar, lalu dapat profit sehingga revenue meningkat?

Menarik, ternyata Joel di buku Smart & Gets Things Done, serta riset Gallup yang dituangkan di buku favorit saya First, Break All The Rules, mengangkat isu serupa.

Ini menurut Joel…

Best Working Conditions –> Best Programmers –> Best Software –> Profit!

 

… ini dari riset Gallup…

gallup-research

 

… dan ini salah satu contoh peta strategi di perusahaan IT yang menerapkan BSC

 

strategicmap

 

Ternyata pesannya sama. Hasil finansial yang memuaskan hanya bisa dicapai bila perusahaan tsb mampu membentuk suasana kerja yang baik, dan didukung oleh sumber daya manusia yang loyal dan ditempatkan secara “right fit”.

Sekarang tinggal bagaimana mengimplementasikan konsep ajaib tersebut aja. :)

P.E.R.T.E.M.U.A.N

Ada sebuah perumpamaan tentang pertemuan yang mengatakan bahwa jalan hidup manusia itu seperti rel kereta api. Setiap insan menjalani hidupnya di jalur rel masing-masing. Beberapa rel ditakdirkan sejajar, sehingga mereka tidak pernah saling mengenal seumur hidup mereka.

Beberapa yang lain, tidak persis sejajar, sehingga pada suatu titik tertentu, rel mereka bersilangan, dan takdir mereka pun bertabrakan. Cross path.

Aku menyebutnya… jodoh. :P

Perjodohanku *xixixi* dengan Teh Okky bermula di internet. Waktu itu aku sedang jatuh cinta sama Garut, sehingga mendadak aku kalap berkelana di dunia maya berusaha menemukan komunitas Garut yang kira-kira enak untuk di-join-i (halah istilah apa ini?).

Kala itu toko buku online kami juga baru launching, sehingga mataku mudah terpancing oleh berita-berita tentang buku baru. Jadi tidak aneh kalau suatu hari aku menemukan sebuah blog official buku Three Colours, sebuah kumpulan cerpen tiga pengarang: Jini, Mimi, Okky. Fakta bahwa Bu Okky ini ternyata orang Garut, itulah yang kunamai jodoh.

Maka mungkin tanpa Bu Okky sadari (bahkan sampai sekarang), sejak saat itu aku menetapkan beliau sebagai target operasi. :D

Dimulai dengan mengirimkan pertanyaan tentang cara memesan bukunya, trus beli, kemudian menawarkan untuk me-listing bukunya di toko buku kami, SKSD lewat SMS, menyapa beliau di forum blogger garut…

Eh iya, proses kenalan dengan dirinya di forum ini juga bisa jadi cerita tersendiri. Waktu itu dengan sok pedenya aku create thread kenalan (memperkenalkan diri sendiri), dan mengkomeni thread-thread kenalan member lain. Dari apa yang kubaca, nampaknya si Teteh satu ini termasuk populer. Gaya bahasanya gaul abis, lucu, penuh percaya diri, dan sangat akrab dengan member lain. Wah, seleb nih kayaknya, batinku rada minder, tapi kok kayaknya sombong ya, gak bales kenalan aku. Tapi namanya juga target operasi, aku maju tak gentar. Meskipun belum dapat balasan, aku tetep keukeuh sok becandain, sok kenal sok dekat. Lagian malu kaliiiiiii… kalau sampai gak berhasil setelah SKSD gitu. Apa kata dunia?? :D

Singkat kata singkat cerita… rupanya si Bunda ini sedang sibuk, bukan sombong. Setelah kenal, wiiiihh.. ramah tenan. Sampai suatu saat dua wanita ini berkesempatan bareng-bareng menjadi nyonya rumah acara kopdar, pada akhir Desember 2008. *kopdar yang tak kan pernah kulupa, cerita cross path yang lain, hehe*

Waktu berlalu, tak terasa sudah hampir Desember lagi sekarang, artinya kami sudah bersilangan jalan selama setahun lebih. Seperti apa Okky di mataku? Hmm, ternyata tidak mudah menjawab pertanyaan itu. *gubraks*

Tetehku itu (aku selalu menyebutnya Teteh, gak mau ikut2an nyebut Bunda seperti yang lainnya, haha) di mataku adalah perpaduan antara berbagai sifat yang mengagumkan.

Passion. Satu hal yang aku kagumi dari ibu ini, dia sepertinya berhasil mempertahankan semangat jiwa muda dalam dirinya. Kalau kamu berteman sendiri dengan si Teteh, kamu pasti ngerti apa yang sedang kusampaikan. Kamu gak akan menyangka sedang bergaul dengan emak-emak beranak 5 deh! *peace Teh! :D * She’s funny, funky, fresh, and a little bit naughty… xixixi.

Tegar. Sebagai single parent, dia berhasil membesarkan kelima anaknya sekaligus berteman dengan mereka. Istilah single parent selalu menjadi wilayah yang abu-abu bagiku, aku tidak pernah bisa membayangkan bagaimana caranya seorang ibu harus sekaligus menjadi ayah, atau seorang ayah sekaligus ibu.. dan bagaimana mereka mengatasi problematika khas single parent di mata masyarakat. Somehow, she did it. She earned that respect, from her children, friends, and colegues.

Berani. Suatu malam, menurut ceritanya, ada sepasang insan dimabuk cinta yang memarkir mobil mereka persis di depan rumah, lalu membuat semacam keributan (?) yang efeknya membangunkan si Teteh dari tidur lelapnya. Spontan ibu ini ngontrog keluar, lengkap dengan tanduk, ekor, dan trisula serta mata menyala-nyala dan api dari mulutnya. *haha, lebay*
Tapi sebetulnya bukan persis hal-hal seperti itu (itu mah krn Teteh preman yak, xixixi) yang membuatku menambahkan sifat “berani” untuk menggambarkan sosok Okky. Berani yang kumaksud di sini lebih ke berani bangkit, berani mencoba lagi, walaupun sudah berkali-kali jatuh. Dan masih jatuh melulu walaupun udah belajar sepeda bertahun-tahun ya Teh, hehe. *wink*
But she never give up hope, because she’s brave.

Loveable. Tanyakan pada semua orang yang mengenalnya. They love her. Why? Mungkin salah satunya karena dia punya sifat care. Dia selalu menyapa teman-temannya di internet. Dan kalau kamu main ke rumahnya, kamu bakal kesulitan mencari-cari alasan untuk tidak menginap, hihihi. Si Teteh ini welcome banget. Rumahnya udah dikenal di seantero jagat internet sebagai homebase bagi para pengelana/musafir/turis yang “kesasar” di Garut. GRATIS!! *eh, bener kan Teh? maap ya kalo ternyata gak gratis, hihi* ;)

Sporty. Tiap hari rutin lari (atau jalan?) pagi ya Teh? Stamina beliau terbukti oke waktu kami mendaki Papandayan Maret 2009. Gak ada ngos-ngosannya! Dan beberapa minggu lalu aku dibuatnya iri karena dia suka ngelayap sendirian naik motor ke Cangkuang, ke Bagendit, atau ke mana pun seputar Garut. Kadang di pagi buta, sekedar menikmati sejuknya udara Garut.

Tapi sebetulnya, setelah kuingat-ingat, selama kami berteman kami tidak pernah curhat-curhatan dengan jelas. Kalau dipikir-pikir aneh juga. Kenapa ya? Kalau dari aku sih wajar, secara aku memang introvert dan segan kalau harus memulai duluan, meskipun mungkin aku tau tentang sesuatu. Mungkinkah si Teteh juga segan sama aku? Au ah elap… :D

Beberapa bulan belakangan ini, aku menduga Tetehku itu sedang bergumul dengan sesuatu yang cukup berat. Sesuatu yang sensitif, sangat sangat sensitif. Aku hanya memperhatikan dari jarak jauh tanpa kata, menduga, menyimpulkan, mempertanyakan, meralat kesimpulanku sendiri, kemudian berharap.

So, Tetehku sayang… pada kesempatan ini, di tulisan yang aku buat sebagai kado di usiamu yang ke… (berapa Teh, pablis ulah? heu3x)… sekaligus aku mau menyampaikan doa dan harapanku… agar apapun keputusan Teteh nantinya (atau sudah?), itu sudah melalui pertimbangan yang benar-benar matang (krn klo setengah mateng eta mah telor menu sarapan tiap pagi, hihi).

Your past defines your present, but you define your own future.

Kalau kata Ikang Fawzi

Tataplah ke muka, hari masih pagi
Berjalan dengan iringan doa
Semoga terjaga pribadi yang kukuh
Menuju arah bulan purnama

Cag! ;)

PS: Kreasi foto menyusul yaaaaaa… hehehe

Si Cantik Harus Tetap Action

thomas-alva-edisonTinggal sehari lagi kontes SEO Stop Dreaming Start Action akan berakhir. Kalau bukan karena dapet email di inbox-ku dari Pak Joko yang mengingatkan hal tsb, sehingga aku mengecek peringkat terakhir, mungkin aku gak akan tau bahwa Si Cantik disabotase orang.

Anyway, yang sudah terjadi gak ada gunanya disesali. Lebih baik konsen ke solusi, betul atau betul? ;)

Salut seribu kali buat Kang Tozie yang berani ambil resiko merombak artikelnya (meskipun udah di saat-saat terakhir seperti ini) sebagai caranya untuk tetap ACTION, untuk tetap berlaga di jalur kontes ini.

Aku yakin beliau bukan sekedar siap gagal, melainkan sudah siap dengan antisipasinya juga.

Mengutip dari buku yang sedang aku baca:

Menghadapi resiko, adalah gabungan kerja keras, kecerdikan, kehati-hatian, kecermatan membaca peluang dan kesiapan menghadapi kegagalan maupun keberhasilan. Happy ending sebuah ikhtiar adalah keberhasilan. Ini dicapai, tentu setelah melewati keberhasilan demi keberhasilan kecil, seperti keberhasilan menyingkirkan kesulitan dan bahaya. Proses ini dibangun dari kesungguhan melahirkan segenap potensi diri seorang entrepreneur. Dengan begitu, ia mengubah “kekalahan menjadi kemenangan”. Kalau Anda termasuk yang tidak siap gagal, lebih baik jangan meniti jalan ini. Bahkan, memimpikannya saja, jangan!”

- Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian #2; hal. 176 -

Whatever the result will be… don’t stop ACTION! Go go go go, sampai titik darah penghabisan!!!! *sambil nyanyiin lagu Ole Ole Ole Ole, :P *

Thomas Alfa Edison, saat ditanya, bagaimana ia bisa bertahan setelah ribuan kali gagal? Dia menjawab, “Saya tidak gagal, tetapi menemukan 9994 cara yang salah dan hanya satu cara yang berhasil. Saya pasti akan sukses karena telah kehabisan percobaan yang gagal.”

Mengapa orang tenggelam?

Jawab: “Orang tenggelam karena dia menetap di situ dan tidak menggerakkan dirinya ke tempat lain.”

Jadi, ayo Kang! Jangan mau tenggelam di halaman 5!

Stop dreaming start action!

Matahariku

Matahari yang hangat…

Mencairkan kutub es yang hanya tau dingin dan beku selama berabad-abad
Seperti lilin yang riang ketika terbakar
Kutub es menyambut gembira hangatnya matahari yang menyentuh kulit dinginnya
Terpikat dia karena cahayanya
Hangat itu tak ingin dia lepaskan

Meskipun melelehkan…
Membutakan…

Matahari telah menjadi candu baginya.

When to use capital, and when not to?

Dalam rangka menunaikan tugas sebagai editor, aku baru saja membaca artikel-artikel yang akan tayang di buletin edisi September/Oktober mendatang. Seketika aku menyadari beberapa point kesalahan yang umum dilakukan oleh para penulisku (caileh, sok gaya..penulisku.. hihi). Salah satunya adalah kesalahan pemakaian huruf kapital.

Kapan kita harus menggunakan huruf besar, dan kapan huruf besar tidak boleh digunakan? Sepertinya banyak orang masih kebingungan dan tidak yakin dengan aturan huruf kapital.

Yang paling mudah diingat tentu saja huruf kapital di awal kalimat. Lalu apa lagi? Nama orang. Benar, itu juga mudah diingat. Nama tempat? Oke. Tapi apakah semua nama tempat harus ditulis huruf besar? Masih banyak orang yang bingung.

Contoh.

“Bulan lalu sepupuku menikah di Gereja Bunda Hati Kudus di depan Mesjid Istiqlal.”

“Pemerintah membangun gereja dan mesjid tersebut berseberangan di jalan utama kota ini.”

“Aku lihat Gereja Bunda Hati Kudus yang terletak di depan mesjid terbesar di Jakarta itu sangat ramai.”

Did you notice? Pada kalimat pertama aku menggunakan huruf besar sedangkan pada kalimat kedua aku menggunakan huruf kecil. Menurut EYD, kata benda (gereja dan mesjid) selalu ditulis huruf kecil, KECUALI jika kata tersebut diikuti oleh nama identitas (Bunda Hati Kudus dan Istiqlal). Untuk menulis identitas maka aturannya sama seperti menulis nama orang, yaitu menggunakan huruf besar.

*kalimat ketiga adalah contoh kombinasi penggunakan huruf besar dan huruf kecil*

Masih ada beberapa lagi aturan penggunakan huruf besar-huruf kecil. Cukup panjang kalau mau ditulis satu persatu di sini. *ehm, “satu persatu” atau “satu per satu” ya? I’ll check it later, hehe.*

Rasanya greget pengen ngasih tau. Jadi timbul ide nih untuk bikin penataran singkat tentang beberapa aturan EYD :P . Mungkin diawali penjelasan tentang konsepnya dulu, kemudian dipraktekkan langsung dengan saling menukar artikel antara peserta penataran (baca: ya para penulis artikel tsb), cari di mana salahnya kemudian dikoreksi.

Aku sadar hal-hal seperti ini cukup remeh untuk segera dilupakan sesaat setelah diberitahukan, hahaha :P . Hanya dengan kebiasaanlah maka naluri untuk menggunakan EYD bisa terasah. Harus dipraktekkan sendiri supaya pengetahuan tersebut menjadi pengalaman pribadi, sehingga mudah-mudahan melekat lebih kuat di ingatan. Syukur-syukur kalau sampai ke ingatan bawah sadar. *kan katanya otak bawah sadar lebih powerfull*

Permainan Logika

Semalam iseng-iseng melontarkan teki-teki by sms ke beberapa teman. Tapi awalnya aku gak bilang bahwa itu teka-teki. Ternyata jawaban spontannya lucu-lucu, hihihi. Ya, karena mereka gak ngeh klo itu teka-teki. Maklum kok. :P

Responden 1:
+ “Bu, klo kau diundang ke pesta kau mau bw apa? Rina dah bw rantang, aku bw mangga, sisca bw sumpit, klo puput mau bw plastik.”
- “Ke pesta kok bw mangga? Mau ngapain bu? Ngulek rujak? Aku mau bawa minum aja dah.”
+ “Huahaha. Ini teka teki bu. Hayo baca en pikirin lg.”
- “Oo aku bawa coklat ya? Tp christine juga mau bw coklat, jd aku biar bw cemilan aja.”
+ “Boleh. Klo denny bw apa kira2.”
- “Denny bw duren, dia demen duren :)

(Lumayan, begitu nyadar bahwa ini teka-teki, gak lama dia langsung nemu polanya. *clap clap clap* :D )

Responden 2:
+ “Bu, klo kau diundang ke pesta kau mau bw apa? Ety dah bw es krim, aku bw mangga, sisca bw sumpit, klo puput mau bw plastik. Ko yantomu ktnya bw yoghurt.”
- “Hah! Dlm rangka apa dl ni pestanya. Tp kynya aku bw mangkok yg gede d, biar bisa bw oleh2 plg.” :D
+ “Ini teka-teki bu, ayo pikirin lagi.”
- “Lho kok suruh mikir lg? Apalagi bu?”

(Huahahaha…)

Responden 3:
+ “Eh klo km diundang pesta mau bw apa? Aku bw minyak kyknya. Si Ai pasti bw anggur, winnie bw wadah buah, klo titis mungkin bw tempe.”
- “Ko aneh2 sih bawaannya. Knp km bw minyak? Sy ke pesta biasanya bw ransel, he3.”

(Hah? Ransel? :P )

Responden 4:
+ “Stel, km klo ke pesta bakal bw apa? Bambang biasanya bw bolpen, anna hrs bw angpao, fitri mungkin bw fanta. Klo aku mau bw minyak aja.”
- “Nomor telp kostmu berapa ya? Aku baru pulang rapat. Aku telpon kamu deh.”

(Hahahahahaha.. dia serius nyangka ada pesta beneran. Pas nelpon, pertanyaan pertama dia: “Kenapa kamu mau bawa minyak WANGI?”)

Asli semalam aku puas ngakak. :D

Sampai sekarang masih ada yang belum dapet jawabannya tuh. Bahkan ada yang tetep gak ngeh klo ini teka-teki, so stlh jawab sekali dilupain begitu aja, dianggap gak penting ‘kali. Huahahahaha…

Jadi, kalau kamu, bawa apa dong? ;)

PS:
Makasih ya sudah menghiburku, teman-teman, hehehe..