Ada sebuah perumpamaan tentang pertemuan yang mengatakan bahwa jalan hidup manusia itu seperti rel kereta api. Setiap insan menjalani hidupnya di jalur rel masing-masing. Beberapa rel ditakdirkan sejajar, sehingga mereka tidak pernah saling mengenal seumur hidup mereka.
Beberapa yang lain, tidak persis sejajar, sehingga pada suatu titik tertentu, rel mereka bersilangan, dan takdir mereka pun bertabrakan. Cross path.
Aku menyebutnya… jodoh. 
Perjodohanku *xixixi* dengan Teh Okky bermula di internet. Waktu itu aku sedang jatuh cinta sama Garut, sehingga mendadak aku kalap berkelana di dunia maya berusaha menemukan komunitas Garut yang kira-kira enak untuk di-join-i (halah istilah apa ini?).
Kala itu toko buku online kami juga baru launching, sehingga mataku mudah terpancing oleh berita-berita tentang buku baru. Jadi tidak aneh kalau suatu hari aku menemukan sebuah blog official buku Three Colours, sebuah kumpulan cerpen tiga pengarang: Jini, Mimi, Okky. Fakta bahwa Bu Okky ini ternyata orang Garut, itulah yang kunamai jodoh.
Maka mungkin tanpa Bu Okky sadari (bahkan sampai sekarang), sejak saat itu aku menetapkan beliau sebagai target operasi. 
Dimulai dengan mengirimkan pertanyaan tentang cara memesan bukunya, trus beli, kemudian menawarkan untuk me-listing bukunya di toko buku kami, SKSD lewat SMS, menyapa beliau di forum blogger garut…
Eh iya, proses kenalan dengan dirinya di forum ini juga bisa jadi cerita tersendiri. Waktu itu dengan sok pedenya aku create thread kenalan (memperkenalkan diri sendiri), dan mengkomeni thread-thread kenalan member lain. Dari apa yang kubaca, nampaknya si Teteh satu ini termasuk populer. Gaya bahasanya gaul abis, lucu, penuh percaya diri, dan sangat akrab dengan member lain. Wah, seleb nih kayaknya, batinku rada minder, tapi kok kayaknya sombong ya, gak bales kenalan aku. Tapi namanya juga target operasi, aku maju tak gentar. Meskipun belum dapat balasan, aku tetep keukeuh sok becandain, sok kenal sok dekat. Lagian malu kaliiiiiii… kalau sampai gak berhasil setelah SKSD gitu. Apa kata dunia?? 
Singkat kata singkat cerita… rupanya si Bunda ini sedang sibuk, bukan sombong. Setelah kenal, wiiiihh.. ramah tenan. Sampai suatu saat dua wanita ini berkesempatan bareng-bareng menjadi nyonya rumah acara kopdar, pada akhir Desember 2008. *kopdar yang tak kan pernah kulupa, cerita cross path yang lain, hehe*
…
Waktu berlalu, tak terasa sudah hampir Desember lagi sekarang, artinya kami sudah bersilangan jalan selama setahun lebih. Seperti apa Okky di mataku? Hmm, ternyata tidak mudah menjawab pertanyaan itu. *gubraks*
Tetehku itu (aku selalu menyebutnya Teteh, gak mau ikut2an nyebut Bunda seperti yang lainnya, haha) di mataku adalah perpaduan antara berbagai sifat yang mengagumkan.
Passion. Satu hal yang aku kagumi dari ibu ini, dia sepertinya berhasil mempertahankan semangat jiwa muda dalam dirinya. Kalau kamu berteman sendiri dengan si Teteh, kamu pasti ngerti apa yang sedang kusampaikan. Kamu gak akan menyangka sedang bergaul dengan emak-emak beranak 5 deh! *peace Teh!
* She’s funny, funky, fresh, and a little bit naughty… xixixi.
Tegar. Sebagai single parent, dia berhasil membesarkan kelima anaknya sekaligus berteman dengan mereka. Istilah single parent selalu menjadi wilayah yang abu-abu bagiku, aku tidak pernah bisa membayangkan bagaimana caranya seorang ibu harus sekaligus menjadi ayah, atau seorang ayah sekaligus ibu.. dan bagaimana mereka mengatasi problematika khas single parent di mata masyarakat. Somehow, she did it. She earned that respect, from her children, friends, and colegues.
Berani. Suatu malam, menurut ceritanya, ada sepasang insan dimabuk cinta yang memarkir mobil mereka persis di depan rumah, lalu membuat semacam keributan (?) yang efeknya membangunkan si Teteh dari tidur lelapnya. Spontan ibu ini ngontrog keluar, lengkap dengan tanduk, ekor, dan trisula serta mata menyala-nyala dan api dari mulutnya. *haha, lebay*
Tapi sebetulnya bukan persis hal-hal seperti itu (itu mah krn Teteh preman yak, xixixi) yang membuatku menambahkan sifat “berani” untuk menggambarkan sosok Okky. Berani yang kumaksud di sini lebih ke berani bangkit, berani mencoba lagi, walaupun sudah berkali-kali jatuh. Dan masih jatuh melulu walaupun udah belajar sepeda bertahun-tahun ya Teh, hehe. *wink*
But she never give up hope, because she’s brave.
Loveable. Tanyakan pada semua orang yang mengenalnya. They love her. Why? Mungkin salah satunya karena dia punya sifat care. Dia selalu menyapa teman-temannya di internet. Dan kalau kamu main ke rumahnya, kamu bakal kesulitan mencari-cari alasan untuk tidak menginap, hihihi. Si Teteh ini welcome banget. Rumahnya udah dikenal di seantero jagat internet sebagai homebase bagi para pengelana/musafir/turis yang “kesasar” di Garut. GRATIS!! *eh, bener kan Teh? maap ya kalo ternyata gak gratis, hihi* 
Sporty. Tiap hari rutin lari (atau jalan?) pagi ya Teh? Stamina beliau terbukti oke waktu kami mendaki Papandayan Maret 2009. Gak ada ngos-ngosannya! Dan beberapa minggu lalu aku dibuatnya iri karena dia suka ngelayap sendirian naik motor ke Cangkuang, ke Bagendit, atau ke mana pun seputar Garut. Kadang di pagi buta, sekedar menikmati sejuknya udara Garut.
…
Tapi sebetulnya, setelah kuingat-ingat, selama kami berteman kami tidak pernah curhat-curhatan dengan jelas. Kalau dipikir-pikir aneh juga. Kenapa ya? Kalau dari aku sih wajar, secara aku memang introvert dan segan kalau harus memulai duluan, meskipun mungkin aku tau tentang sesuatu. Mungkinkah si Teteh juga segan sama aku? Au ah elap… 
Beberapa bulan belakangan ini, aku menduga Tetehku itu sedang bergumul dengan sesuatu yang cukup berat. Sesuatu yang sensitif, sangat sangat sensitif. Aku hanya memperhatikan dari jarak jauh tanpa kata, menduga, menyimpulkan, mempertanyakan, meralat kesimpulanku sendiri, kemudian berharap.
So, Tetehku sayang… pada kesempatan ini, di tulisan yang aku buat sebagai kado di usiamu yang ke… (berapa Teh, pablis ulah? heu3x)… sekaligus aku mau menyampaikan doa dan harapanku… agar apapun keputusan Teteh nantinya (atau sudah?), itu sudah melalui pertimbangan yang benar-benar matang (krn klo setengah mateng eta mah telor menu sarapan tiap pagi, hihi).
Your past defines your present, but you define your own future.
Kalau kata Ikang Fawzi…
Tataplah ke muka, hari masih pagi
Berjalan dengan iringan doa
Semoga terjaga pribadi yang kukuh
Menuju arah bulan purnama
Cag! 
…
PS: Kreasi foto menyusul yaaaaaa… hehehe