Motret Itu Asyik

Di tahun 2005, aku memutuskan untuk beli camdig, supaya bisa motret acara kawinan Sisca (yang nota bene kawinan pertama dalam keluarga kami, meskipun diawali justru oleh anak paling bontot, hehe). Sejak itu, aku menjadikan diriku sendiri sebagai tukang potret dalam setiap acara keluarga dan kawinan teman dekat.

Eh, intermezzo sedikit. Waktu Sisca merit itu, salah seorang tante menyarankan untuk mencuri hiasan kembang penganten perempuan supaya “ketularan” menikah (btw, kuncinya adalah mencuri lho; artinya harus diusahakan supaya sang penganten gak nyadar kembangnya dicomot). Nah, alih-alih nyolong kembang, aku sih nyolong motret kembang. Alhasil efeknya jadi menyimpang, hahaha, bukannya ketularan menikah tapi ketularan motret pernikahan. :P

So, inilah daftar pernikahan yang telah kujadikan ajang belajar (berani) motret:

Continue reading

Bikin Keramik part 2

DSC 5019 3Part 1-nya yang mana? Hehe, yang ini nih. Ceritanya, hari ini aku ke Museum Keramik lagi. Awalnya cuma mau ngambil keramik hasil bikinan 2 minggu lalu yang katanya hari ini udah selesai dibakar. Ternyata sih belum dibakar. Rupanya tungku pembakarannya ada minimum quota, jadi harus tunggu tambahan keramik baru.

Untungnya kedatanganku gak sia-sia. Aku dan Anna malah berkesempatan praktek bikin keramik pake alat putar betulan! Horeee!! Seneng banget. Waktu bareng Sahabat Museum memang gak sempat, secara pesertanya lumayan banyak sedangkan alatnya hanya ada 2. Untuk workshop tarifnya Rp 15.000 per orang.

Pertama, si Mas petugasnya nyontohin dulu. Gini nih step-nya:

Continue reading